detikNews
Kamis 12 September 2019, 17:08 WIB

In Memoriam BJ Habibie (3)

Lee Kuan Yew dan Dubes AS Tolak Habibie Jadi Wapres

Sudrajat - detikNews
Lee Kuan Yew dan Dubes AS Tolak Habibie Jadi Wapres BJ Habibie dan Lee Kuan Yew (Montase Foto: Andhika Akbariansyah/detikcom)
Jakarta -

Ketidaksukaan terhadap sosok BJ Habibie saat akan dicalonkan sebagai wakil presiden (wapres) tak cuma berasal dari sejumlah tokoh di Tanah Air, tapi juga dari Singapura. Harian The Straits Times Interactive, edisi 8 Februari 1998, memuat pernyataan mantan Perdana Menteri 'Negeri Singa' itu, Lee Kuan Yew, bahwa pasar sempat terganggu oleh adanya sinyal wapres yang akan mendampingi Presiden Soeharto. Ia juga meramalkan, bila Habibie sampai menjadi wapres, nilai tukar dolar AS yang saat itu pada posisi Rp 15.000-16.000 akan mencapai Rp 50.000.

Namun Habibie tak terpancing ucapan tokoh paling berpengaruh di Singapura itu. Dia mengatakan tidak mengetahui faktor-faktor apa yang menjadi dasar pernyataan Lee Kuan Yew. Hanya, secara teoretis, pasar saham di Jakarta, katanya, paling tinggi melibatkan 200.000 orang. Mungkin dari jumlah itu, 20 persen di antaranya mengendalikan 80 persennya.

"Oleh karena itu, keadaan dan respons pasar tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk mencari pimpinan nasional, penetapan GBHN, serta visi nasional," kata Habibie dalam rapat kerja dengan Komisi DPR yang membidangi masalah teknologi. Sebagai menteri senior, dia melanjutkan, Lee Kuan Yew diakui sangat bijaksana dan berjasa kepada negaranya. "Tetapi kita harus menyadari bahwa masa depan kita harus ada di pundak kita sendiri," kata Habibie.

Di kemudian hari, ketika menjadi presiden menggantikan Soeharto, yang berhenti dari jabatannya pada 21 Mei 1998, Habibie membuktikan bahwa prediksi dan kekhawatiran Lee sama sekali tak berdasar. Meski hanya memerintah dalam kurun sangat singkat, 512 hari, ia berhasil menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menjadi di bawah 7.000.

Selain Lee, mantan Dubes Amerika Serikat di Jakarta Paul Wolfowitz pernah mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap sosok Habibie. Salim Said, mantan Dubes RI untuk Ceko, mengungkapkan hal ini dalam buku 'Dari Gestapu ke Reformasi'. "Habibie tidak akan diterima oleh Amerika," cetus Paul di sela acara jamuan makan malam di rumah dinas Dubes RI Dorodjatun Kuntjoro-Jakti di Washington.

Salim, yang duduk semeja, mengaku tersentak dan tersinggung. "Sejak kapan Presiden Indonesia ditentukan oleh Washington?" dia menukas dengan kesal. Sejak saat itu, kata Salim, dirinya sedapat mungkin menghindari Paul.

Sebelumnya, dalam wawancara dengan Asian Wall Street Journal (ASWJ), Habibie sempat mengungkapkan rasa kecewa terhadap Singapura. Sebab, sebagai salah satu negara tetangga terdekat, Perdana Menteri Goh Chok Tong justru terlambat mengucapkan selamat atas jabatan baru Habibie sebagai presiden. Habibie menilai Singapura tidak menganggap Indonesia sebagai sahabat di tengah krisis ekonomi.

"Tidak apa-apa, tapi ada 211 juta orang (di Indonesia). Semua (wilayah) yang hijau adalah Indonesia dan titik merah (little red dot) itu adalah Singapura," kata Habibie sambil menunjuk ke arah peta di ruang kerjanya. ASWJ menerbitkan hasil wawancara itu pada 4 Agustus 1998.

Dalam pidato kenegaraan, 23 Agustus 1998, Goh menepis tudingan Habibi bahwa dirinya terlambat menyampaikan ucapan selamat dan tak peduli terhadap krisis yang terjadi. "Kami hanya memiliki tiga juta penduduk. Singapura hanyalah titik merah kecil di peta. Bagaimana mungkin kami bisa menolong 211 juta penduduk Indonesia?" kata Goh menyindir.

Lima tahun setelah tak menjadi presiden, Habibie menulis otobiografi 'Detik-detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi'. Di halaman 308 buku itu ditulis bahwa Lee Kuan Yew meminta maaf dan menyampaikan pujian kepada dirinya. Hal itu disampaikan tertulis dan dititipkan melalui Menteri BUMN Tanri Abeng. "Dengan surat tersebut, ia memperlihatkan jiwa besar dan sikap seorang negarawan," tulis Habibie.




(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com