detikNews
Kamis 12 September 2019, 12:14 WIB

Sebelum Pakai Mecin, Suku Dayak Pedalaman Andalkan Daun Sengkubak

Akfa Nasrulhak - detikNews
Sebelum Pakai Mecin, Suku Dayak Pedalaman Andalkan Daun Sengkubak Foto: Akfa Nasrulhak
Jakarta -

Masyarakat suku Dayak di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar), amat menyukai daun sengkubak. Tanaman yang masuk dalam keluarga manispermaceae ini kerap digunakan sebagai penyedap rasa alami. Sengkubak dapat ditemukan di Kalimantan Barat pada ketinggian 100-150 meter, baik di dataran rendah dan perbukitan.

"Tumbuhan ini sering tumbuh di dataran tinggi, nah barang ini disebut Sengkubak, kata kami, orang Kalimantan," ujar warga Desa Benua Kencana, Sintang, Yustina yang pernah menanamnya, Jumat (30/8/2019).

Masyarakat Dayak di sekitar Desa Benua Kencana memang sering menggunakan tanaman berdaun lancip ini sebagai penyedap rasa. Apalagi, dulu sebelum mereka mengenal vetsin yang diproduksi secara modern, daun sengkubaklah yang menjadi andalan untuk menghasilkan makanan lezat.

"Kalau dulu, zaman mama dan bapak saya dulu pakai daun sengkubak ini, baru tahu micin itu di umur anak saya, tahun 1969. Kalau dulu memang pakai ini. Ini memang tumbuhan liar di pedalaman hutan, tapi ditanam sendiri pun bisa. Jadi kita ambil akarnya sedikit dari hutan, kita tanam di pekarangan bisa tumbuh," ujar Yustina.

Yustina menjelaskan daun sengkubak terdapat kandungan asam glutamat yang ada pada MSG atau penyedap rasa. Cara menggunakan daun ini sebagai penyedap rasa pun cukup mudah. Bisa dicampur dengan daun ubi, kemudian ditumbuk halus atau meremas daun sengkubak kemudian dicampurkan ke dalam masakan.

"Kegunaannya untuk dicampur dengan daun Ubi. Caranya begini pas kita tumbuk Sengkubak dengan daun Ubi ini ya, tambahkan bawang merah sedikit, ada asam sedikit, tapi asam yang diambilnya itu batang mudanya. Campurkan dan tumbuk sama-sama," ujarnya.

"Tapi kalau untuk campuran rebung, daun ini tinggal diremas-remas saja, nggak perlu ditumbuk," tambahnya.

Yustina menambahkan daun sengkubak ini juga bisa berbuah. Ukurannya cukup besar dan bentukya itu bulat. Bahkan, konon buah tersebut bisa menjadi obat penawar racun hingga penawar dari minuman yang memabukkan. Meski begitu, Yustina sendiri belum bisa memastikan kepercayaan tersebut.

"Tapi yang aneh, ini kan kulit buah, nah ada seratnya di daging buahnya itu. Kata orang sih buah itu bisa penawar racun. Untuk menawarkan minuman keras juga bisa kata orang tuh. Kalau kita minum arak, makan buah ini jadi nggak akan mabuk katanya. Itulah, kata orang, aku sendiri sih nggak pernah coba," ujarnya.

Namun, yang pernah ia lakukan, buah dari sengkubak tersebut dapat digunakan sebagai obat alami untuk sariawan. Caranya dengan menyeduh buah dengan air panas, kemudian air yang larut dari buah tersebut diminum.

"Tapi kalau buahnya untuk yang sakit kerongkongan, buahnya itu direndam dengan air panas, kemudian air larutan itu kita minum, bisa sembuh sakit tenggorokan itu, sariawan lah. Ini langka sih buahnya, di pedalaman hutan. Kalau daerah sini termasuk banyak. Bisa dikembangkan juga ditanam ini. Sekitar 3-4 bulan dari mulai bibit, bisa tumbuh lah," ujarnya.

Yustina menambahkan, daun sengkubak terdapat 2 jenis daun. Pertama di punggung daun yang terdapat serat kasar, maka itu tidak bisa dikonsumsi karena bisa menyebabkan muntah-muntah. Sementara yang tekstur punggung daun lembut makan itulah yang aman dikonsumsi.

Ke depan, Yustina berharap daun sengkubak ini bisa dibudidayakan sebagai bahan dasar alami untuk pembuatan penyedap rasa. Di samping itu, masyarakat di sekitar desa tersebut pun tak melulu mengandalkan menyadap karet sebagai mata pencahariannya, namun lebih luas ke berbagai macam tanaman perkebunan lainnya.

Sebelum Tahu Mecin, Suku Dayak Pedalaman Andalkan Daun SengkubakFoto: Akfa Nasrulhak

Selain daun sengkubak, Pemerintah Desa Benua Kencana berencana akan mengembangkan kopi untuk dibudidayakan. Saat ini, masih dalam penyiapan lahan. Adapun sumber dana dari lahan tersebut salah satunya adalah dari dana desa.

Sebagai informasi, Desa Benua Kencana telah pada 2019 memperoleh jatah dana desa Rp 842.923.000 dan pada tahun 2018 sebesar Rp 732.388.000 ribu. Hingga saat ini, dana desa telah dianggarkan untuk pembangunan kantor desa, polindes, hingga memberikan insentif kepada guru-guru di Desa Benua Kencana dalam program Kiat Guru. Selebihnya masih fokus untuk perbaikan dan pembangunan infrastruktur dan sarana olahraga desa. Untuk mengetahui informasi lainnya dari Kemendes PDTT, klik di sini.




(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com