Esther Gayatri Cerita Jasa BJ Habibie yang Jadikannya Pilot Wanita Pertama RI

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 12 Sep 2019 11:06 WIB
Pilot Pertama RI Kapten Esther Gayatri (Eva/detikcom)
Jakarta - Pilot perempuan pertama Indonesia Kapten Esther Gayatri mengenang sosok Presiden RI ke-3 BJ Habibie. Ia mengatakan BJ Habibie lah yang menerimanya sebagai pilot perempuan pertama.

"Jadi pada saat saya pulang dari Amerika tahun 1984 Indonesia belum ada pilot wanita, jadi saya ditolak di mana-mana beliaulah yang menerima saya di PT Nurtanio," ujar Esther setelah melayat ke rumah duka BJ Habibie, Jl Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (12/9/2019).

Esther mengatakan surat tanda dia diterima sebagai pilot pun masih disimpannya hingga sekarang. Ia juga sempat diizinkan untuk menjadi kopilot pesawat N-250 Gatot Kaca rancangan BJ Habibie.


"Beliau seorang visioner, surat keputusan itu saya masih simpan, di situ tertulis bahwa Esther diterima di posisi tes pilot di Nurtanio, padahal itu saya masih baru. Little that I know I am now as he was telling 34 years ago. Jadi dia visioner. Saya sangat bertema kasih. I think God blessed him," ucapnya.



Esther mendapat banyak pelajaran dari BJ Habibie. Terutama tentang uji penerbangan pesawat.

"Saya mendapat berkat banyak hal dari beliau, dan beliau juga menasehatkan mengenai test flight pesawat-pesawat. Saya pikir apa yang dia sudah bangun kita harus tetap bisa pertahankan bahkan lebih, itu tekad. Dan melakukan uji coba itu harus dengan hati-hati, itu pesan beliau," katanya.

Banyak pembicaraan terkait pesawat setiap bertemu BJ Habibie. Hingga terakhir Esther mengaku bertemu dengan BJ Habibie tiga tahun lalu. Di situ pun ia masih berbicara terkait perkembangan pesawat.


"Itu tiga tahun lalu, saya baru pulang dari Kanada abis test pilot school. Langsung pada event Lebaran saya bertemu dan ditanya masih terbang, saya jawab masih, saya siap membantu untuk apa pun pesawat yang ia rancang R80 saya siap bantu. Dan itu kali terakhir setelah itu saya sibuk dengan N219," tuturnya.

Sebagai informasi, N219 Nurtanio merupakan produk hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). (eva/rvk)