Ibunya Pingsan, Jenazah Sekretaris Trimedya Dimakamkan
Kamis, 27 Okt 2005 13:28 WIB
Bandung - Siapa tak pilu melihat buah hatinya meninggal tragis. Euis (65) pun pingsan menahan kepedihan saat putrinya dimasukkan ke liang lahat. Kasus kematian Yustiningsih (35), sang sekretaris anggota FPDIP DPR Trimedya Panjaitan ini masih meninggalkan misteri.Setelah diserahkan ke pihak keluarga, jenazah perempuan cantik yang kerap disapa Nungky ini dimakamkan di pemakaman umum Rancasili, Riung Bandung, pukul 09.00 WIB, Kamis (27/10/2005).Dalam pemakaman tersebut, Trimedya sebagai atasan Nungky tak tampak. Hanya keluarga dan kalangan dekat yang hadir dalam pemakaman tersebut.Ibu Nungky, Euis tak kuasa menahan kesedihan. Ia sempat jatuh pingsan saat pemakaman anak ke-5 dari 7 bersaudara yang menjadi tulang punggung keluarga tersebut.Jasad Nungky tiba di rumah duka di Kompleks Margahayu Raya II Blok S No. 20 pada Rabu (26/10/2005) pukul 23.00 WIB. Saat sampai ke rumah duka, jenazah dibawa dengan ambulans dan dikawal satu unit kendaraan satgas PDIP dari RSCM Jakarta.Seorang sepupu Nungky, Dudung Supriyatna kepada detikcom menjelaskan, Nungky menghubungi ibunya terakhir pada Jumat (21/10/2005). Saat itu, almarhum mengatakan akan memberi uang Lebaran. Namun setelah itu, Nung, demikian nama panggilan lajang cantik ini sehari-hari, tidak berhasil dihubungi.Nungky ditemukan sudah menjadi mayat di kamar mandi tempat tinggalnya, Rusun Benhil Flat I, Jakarta Pusat pada Rabu 26 Oktober pukul 14.00 WIB. Diduga Nungky menjadi korban pembunuhan. Guna mengetahui penyebab kematiannya, jasad perempuan cantik ini dibawa ke RSCM untuk diotopsi. Hasilnya, Nungky positif dibunuh dengan kekerasan. Meski sudah dipastikan menjadi korban pembunuhan, sampai saat ini polisi belum berhasil mengungkap siapa pelakunya. "Informasi yang kami terima, keluarga sudah memeriksa teman dekatnya yakni Taufik. Taufik ini pacar Nung," ujar Dudung. Pemeriksaan terhadap Taufik, menurut Dudung, karena muncul berbagai dugaan. Dan Taufik dinilai mempunyai sifat pencemburu. "Taufik itu pencemburu. Jadi ada kecurigaan terhadap dia,"katanya. Namun, informasi yang bekembang belakangan, tidak mengarah ke Taufik.Namun, Dudung juga menjelaskan berdasarkan informasi yang didapat keluarga, kemungkinan pembunuh lebih dari satu orang. Hal ini berdasarkan hasil visum, dari sidik jari yang menempel di tubuh korban. Selain itu, juga ditemukan adanya indikasi pemerkosaan. Nungky kelahiran Bandung 1971. Ia lulusan STIE Indonesia Membangun (Inaba) Bandung jurusan ekonomi. Setelah lulus, ia kemudian bekerja di Jakarta. Baru mulai tahun 2000, Rusningsih bekerja di DPR dan sejak tahun 2002 menjadi sekretaris Trimedya. Ia menjadi tulangpunggung ekonomi keluarga sejak ayahnya meninggal.Kabar tewasnya Nungky diperoleh keluarga dari Siska, teman dekatnya. Sebelumnya, Euis (65) ibu Nungky sudah was-was terhadap nasi anaknya setelah tak berhasil dikontak selama 3 hari. "Sejak hari Minggu sampai Selasa sudah dikontak oleh Nungki terus dihubungi ibunya, namun tidak berhasil. Baru Rabu siang kami mendapat telepon dari Siska kalau Nung sudah meninggal," kata Dudung.
(jon/)











































