detikNews
Rabu 11 September 2019, 08:52 WIB

Hakim Roki dan Ketukan Palu Merampas Harta Bupati Korup Rp 30,5 Miliar

Andi Saputra - detikNews
Hakim Roki dan Ketukan Palu Merampas Harta Bupati Korup Rp 30,5 Miliar Roki Panjaitan (andi/detikcom)
Jakarta - Pengadilan Tinggi (PT) Palangka Raya merampas harta eks Bupati Katingan, Kalimantan Tengah (Kalteng), Ahmad Yantenglie sebesar Rp 30,5 miliar dirampas negara. Yantenglie dinyatakan secara sah terbukti korupsi APBD yang pakai untuk keperluan pribadi, seperti membeli kebun sawit dan sebagainya.

"Menghukum terdakwa H Ahmad Yantenglie bin Desie Uga untuk membayar uang pengganti Rp 30.582.536.065,32, sebagai pengganti kerugian negara," kata ketua majelis banding, Roki Panjaitan dalam keterangannya, Rabu (11/9/2019).

Sidang itu digelar pada Senin (9/9) kemarin. Duduk sebagai anggota Bambang Widiyatmoko dan Andreas Eno Tirtakusuma.
Hakim Roki dan Ketukan Palu Merampas Harta Bupati Korup Rp 30,5 MiliarAhmad Yangtenglie (edo/detikcom)

"Dengan ketentuan jika terpidana tidak membayar uang pengganti tersebut selama 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap, harta bendanya dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Dan jika terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut maka dipidana penjara selama 8 tahun," ujar Roki.

Adapun untuk pidana pokok, Yantenglie dihukum 10 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Yantinglie dinyatakan terbukti korupsi terkait raibnya dana APBD sebesar Rp 35 miliar.

Sejumlah barang bukti dirampas untuk negara. Berikut ini daftarnya:

1. 1 unit bangunan rumah di Jalan Revolusi Kasongan Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah
2. 1 unit bangunan rumah BTN visma Garden Jalan Tjilik Riwut Km. 6 Kasongan Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah;
3. Sebidang tanah dengan luas 3000 (tiga ribu) Hektare, yang sebagian ditanami sawit dengan luas 200 Hektare di Jalan Hampangen Luwuk Kanan, masuk Jalan Hampangen Mendawai Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah
4. 1 unit ruko di Jalan Tjilik Riwut Km. 2,5 Kasongan Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah
5. 1 unit bangunan Rumah dan 1(satu) set alat musik di Jalan Pahlawan No. 4 Kabupaten Katingan Provonsi Kalimantan tengah
6. 1 unit bangunan sarang walet di Jalan Hampangen Luwuk Kanan, masuk Jalan Hampangen Mendawai, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah
7. 1 lembar berita acara pengukuran tanah Nomor: 594/741/Pem tanggal 23 Desember 2010 yang berlokasi di Jalan Danau Darat RT. 13 seluas 1.320. M2 atas nama ENDANG SUSILAWATIE;
8. 1 lembar surat pernyataan kepemilikan sebidang tanah atas nama ENDANG SUSILAWATIE yang berlokasi di Jalan Danau Darat RT. 13 tanggal 27 Desember 2010 seluas 1.320. M2. berserta lampirannya;
9. 1 unit mobil Toyota Fortuner warna hitam No. Pol : D 1684 QPP, Model KUN60-EKPSHD, Nomor mesin : 2KD-FTV dan Nomor rangka: MHF ZR69G5E3086965.

Siapakah Roki Panjaitan? Dalam jagat peradilan, namanya dikenal 'angker' bagi para terdakwa korupsi. Sejumlah hukuman berat kerap ia jatuhkan kepada para terdakwa yang kerap menghiasi media massa.
Hakim Roki dan Ketukan Palu Merampas Harta Bupati Korup Rp 30,5 Miliar

Seperti Irjen Djoko Susilo yang diadili Roki Panjaitan di Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta. Lewat ketukan palunya, Roki memperberat hukuman Djoko Susilo dari 10 tahun penjara menjadi 18 tahun penjara. Selain itu, harta Djoko Susilo juga dirampas negara yaitu sebesar Rp 32 miliar.

Saat menjadi ketua majelis di PN Jaksel, ketukan Roki Panjaitan juga membuat Adrian Waworuntu tertunduk lemas dan keluarga menangis. Sebab, Adrian divonis penjara seumur hidup karena korupsi membobol BNI sebesar Rp 1,2 triliun. Vonis Adrian berkekuatan hukum tetap dan bergeming hingga tingkat KPK.

Sekadar diketahui, di Indonesia, baru tiga orang yang menghuni penjara karena korupsi dengan hukuman terlama yaitu penjara seumur hidup. Mereka adalah Adrian, Akil Mochtar dan Brigjen TNI Teddy Hernayadi.

Roki pula yang memperberat hukuman Ahmad Fathanah dari 14 tahun penjara menjadi 16 tahun penjara di tingkat banding. Fathanah terbukti menyuap pengurusan penambahan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian.

Dalam kasus pembunuhan dan mutilasi 14 anak, Babeh juga harus merasakan ketokan palu Roki. Dengan tegas, Roki mengubah hukuman penjara seumur hidup Babeh yang dijatuhkan PN Jaktim menjadi hukuman mati.

Pada 2015, Roki Panjaitan selaku ketua majelis hakim PN Jaksel menjatuhkan hukuman mati kepada Iwan Darmawan Mutho alias Rois. Rois terbukti secara sah dan meyakinkan membantu dan menyembunyikan pelaku peledakan bom di depan kedutaan besar Australia, Jalan Rasuna Said, Kuningan, 9 September 2004.
(asp/aan)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com