detikNews
Selasa 10 September 2019, 18:25 WIB

Bantah Media Malaysia, BMKG: Tak Ada Asap Karhutla Lintasi Kuala Lumpur

Farih Maulana Sidik - detikNews
Bantah Media Malaysia, BMKG: Tak Ada Asap Karhutla Lintasi Kuala Lumpur Foto: Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Farih Maulana Sidik/detikcom)
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa tidak ada asap lintas batas (transborder haze) dari Indonesia ke Kuala Lumpur, Malaysia. Hal itu berdasarkan data dari pemantauan satelit Himawari-8 milik Jepang dan Satelit Sentinel milik Eropa.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan tidak mungkinnya asap menyeberang ke sana. Pertama, terkait dengan arah angin.

"Berdasarkan data dari satelit sejak 5 September hingga 9 September 2019, terpantau arah angin berasal dari Tenggara menuju ke Barat Laut. Sementara itu, titik panas terpantau di Indonesia, terpantau berada di wilayah Sumatera Selatan," ujar Dwikorita di Gedung KLHK, Jakarta, Selasa (10/9/2019).


Hal itu, kata Dwikorita, yang menyebabkan asap tidak mungkin menyeberang dari arah Sumatera Selatan menuju ke Semenanjung Malaysia. Diketahui terdapat sejumlah titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera yakni di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pekanbaru, dan Bengkulu. Sejumlah titik itu diketahui berlokasi berdekatan dengan perbatasan Malaysia.

"Asap di Sumatera tidak terdeteksi melintas Selat Malaka karena terhalang oleh angin kencang dan dominan di Selat Malaka yang bergerak dari arah tenggara ke barat laut," kata Dwikorita.



Dwikorita lantas mengungkit pemberitaan pada 6 September 2019 terkait asap di Kuala Lumpur. Dia kembali menjelaskan asap karhutla tak mungkin menyeberang ke Kuala Lumpur.

"Sementara tanggal 6-7 September ada pemberitaan asap di Kuala Lumpur karena warning asap dari Sumatera. Kami berbicara berdasarkan data. Kemudian tanggal berikutnya kita lihat citra satelit Himawari, kita bandingkan dengan satelit Sentinel. Kita masukkan data arah angin, arah dan kecepatan angin. Di sini terlihat bahwa memang Selat Malaka terlihat ada angin dominan arahnya tenggara barat laut, bergerak dari tenggara ini nerobos ke arah barat laut," jelas dia.

"Ini juga menjadi jawaban, kalau ada hotspot kenapa tidak bisa nyeberang dari Sumatera ke Semenanjung Malaysia? Karena terhalang dari angin yang kencang dan dominan ini. Jadi satu karena hujan dan di sini pun ada hotspot ini yang Sumatera Selatan ada hotspot juga. Tetapi hotspotnya kalau nyebar ke arah barat laut karena ikut arah angin, dia tidak mau menikung belok ke kanan nyeberang karena anginnya tidak bergerak ke situ," imbuh dia.


Setidaknya, menurut BMKG, berdasarkan data satelit pada 6 sampai 7 September, terjadi peningkatan jumlah hotspot di Malaysia (Serawak dan Semenanjung Malaysia) yakni dari 1.038 titik menjadi 1.423 titik.

"Berdasarkan pengamatan citra satelit Himawari-8 dan analisis Geohotspot BMKG, asap yang terdeteksi di Kuala Lumpur tanggal 5-7 September dari local hotspot," kata Dwikorita.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah Malaysia akan mengirimkan nota diplomatik kepada Indonesia, negara tetangganya, terkait kabut asap. Nota diplomatik itu untuk mendorong Indonesia agar mengambil tindakan segera untuk memadamkan kebakaran lahan yang mengirimkan kabut asap ke wilayah Malaysia.

Seperti dilansir media lokal Malaysia, The Star, Jumat (6/9), rencana melayangkan nota diplomatik ke Indonesia itu disampaikan oleh Wakil Menteri Energi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Lingkungan dan Perubahan Iklim Malaysia, Isnaraissah Munirah Majilis.

"Ini (nota diplomatik) akan dikirimkan secepat mungkin. Kami sedang dalam tahap akhir penyusunan draf," sebut Isnaraissah kepada wartawan setempat, dalam briefing soal isu-isu terkait kabut asap di kantor Departemen Lingkungan Malaysia.
(gbr/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com