Tersangka Mafia Migas Bikin Penampung Duit Suap di British Virgin Island

Haris Fadhil - detikNews
Selasa, 10 Sep 2019 15:42 WIB
Ilustrasi KPK (Dok. detikcom)
Jakarta - Kasus mafia migas akhirnya dibongkar KPK. Seorang tersangka ditetapkan, yaitu Bambang Irianto, dengan dugaan menerima suap terkait perdagangan minyak mentah dan produk kilang.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menjabarkan satu per satu gurita bisnis migas pada tubuh PT Pertamina (Persero) ini. Seperti apa konstruksi perkara ini?

Awalnya PT Pertamina memiliki target menciptakan ketahanan nasional di bidang energi dengan membentuk fungsi Integrated Supply Chain (ISC). Untuk mendukung target itu, PT Pertamina mendirikan anak usaha, yaitu Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) dan Pertamina Energy Services Pte Ltd (PES).


"Petral, yang berkedudukan hukum di Hong Kong; dan PES, yang berkedudukan hukum di Singapura. Petral tidak punya kegiatan bisnis pengadaan dan penjualan yang aktif, sedangkan PES menjalankan kegiatan bisnis utama pengadaan dan penjualan minyak mentah dan produk kilang di Singapura untuk mendukung perusahaan induknya yang bertugas menjamin ketersediaan bahan bakar minyak secara nasional," ucap Syarif dalam konferensi pers di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (10/9/2019).

Syarif mengatakan Petral diposisikan sebagai semacam 'paper company', sementara itu kegiatan yang sesungguhnya terjadi adalah berada di PES. KPK pun berfokus pada penyimpangan yang terjadi di PES tersebut.



Nah, setelahnya, Syarif menjelaskan apa saja peran Bambang Irianto sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Pada 2008, Bambang Irianto masih bekerja di kantor pusat PT Pertamina dan bertemu dengan perwakilan Kernel Oil Pte Ltd yang merupakan salah satu rekanan PT Pertamina. Disebutkan pula bahwa Bambang Irianto pernah menjadi Direktur Utama Petral sebelum dilakukan pergantian pada 2015.

Lalu, pada 6 Mei 2009, Bambang Irianto menjabat Vice President Marketing PES. Saat itu PES melaksanakan pengadaan serta penjualan minyak mentah dan produk kilang untuk kebutuhan PT Pertamina. Bambang Irianto pun beraksi 'mengamankan' jatah alokasi kargo Kernel Oil.


Dalam tender, Bambang Irianto menentukan rekanan yang diundang, salah satunya National Oil Company (NOC) yang sering diundang untuk mengikuti tender yaitu Emirates National Oil Company (ENOC). Bambang Irianto diduga mengarahkan seolah-olah PES membeli dari ENOC, padahal minyak dimiliki oleh Kernel Oil.

"Sebagai imbalannya diduga Bambang Irianto menerima sejumlah uang yang diterima melalui rekening bank di luar negeri," ucap Syarif.

Syarif menyebut Bambang Irianto mendirikan Siam Group Holding Ltd yang berkedudukan hukum di British Virgin Island untuk menampung penerimaan uang itu. Setidaknya menurut penyelidikan KPK, Bambang Irianto menerima uang melalui rekening perusahaan itu pada periode 2010 sampai 2013 sebesar USD 2,9 juta. (dhn/fdn)