Menlu Bicara Pentingnya Diplomasi Digital untuk Kerja Sama Ekonomi

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 10 Sep 2019 11:21 WIB
Foto: Menlu Retno Marsudi (Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Foto: Menlu Retno Marsudi (Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Jakarta - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi membuka acara Regional Conference on Digital Diplomacy (RCDD) tahun 2019. Retno menekankan pentingnya diplomasi digital guna mendukung diplomasi ekonomi.

"Bahwa diplomasi sudah tidak dapat dilakukan konvensional, digital diplomasi merupakan suatu keniscayaan, bukan opsi lagi sudah merupakan suatu keharusan," ujar Retno di Hotel Mulia, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (10/9/2019).

Retno menyebut diplomasi digital merupakan salah satu upaya untuk mendukung diplomasi di bidang ekonomi. Retno berharap teknologi informasi dapat menjalin komunikasi antarnegara untuk melakukan kerja sama di bidang ekonomi.


"Diplomasi digital sebagai alat untuk kerja sama ekonomi. Tidak ada negara yang kebal terhadap megatrend ekonomi global, seperti naik kesenjangan, efek dari revolusi industri, belum lagi perang dagang baru-baru ini. Sehingga, diplomasi dan kerja sama terjadi menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi tantangan itu," lanjutnya.

Retno mengatakan diplomasi digital juga berperan dalam menyebarkan pesan perdamaian. Media sosial dan internet harus digunakan untuk melawan ekstremisme di Internet.

"Menggunakan diplomasi digital untuk menyebarkan pesan perdamaian. Teknologi internet dan social media harus digunakan untuk melawan ancaman yang tumbuh dari ekstremisme keras di internet," kata dia.



Lebih lanjut, Retno menyebut diplomasi digital dapat digunakan untuk melindungi warga negara Indonesia (WNI) yang berada si luar negeri. Menurutnya, internet adalah salah satu alat bagi WNI untuk meminta perlindungan kepada pemerintah Indonesia.

"Diplomasi digital sebagai alat untuk melindungi warga negara kita. Saya percaya bahwa jika digunakan secara efektif, internet bisa menjadi alat yang ampuh melindungi warga negara dan kepentingan kami di luar negeri," lanjutnya.

Retno juga memaparkan dua aplikasi yang digunakan pemerintahan Indonesia untuk melindungi WNI. Dua aplikasi tersebut adalah Portal WNI dan Safe Travel.

"Di Indonesia, di Kemlu, kita sudah membangun dua platform yang baru, yaitu Portal WNI dan juga Safe Travel dan platform seperti itu akan sangat bermanfaat terutama apabila terjadi krisis atau emergency," kata Retno.


Konferensi ini merupakan inisiatif Kementerian Luar Negeri RI yang merupakan tindak lanjut dari International Seminar on Digital Diplomacy Beyond Social Media yang telah dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 Juli 2018. Selain itu, RCDD juga sebagai konferensi pertama yang dilakukan dalam bidang diplomasi digital. Kegiatan ini dihadiri oleh 16 negara di antaranya 10 negara ASEAN dan 6 negara lainnya, yaitu Australia, RRT (China), India, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru.

Terdapat 3 sesi pada RCDD yakni sesi antarpemerintah yang akan membahas pemanfaatan teknologi digital dalam diplomasi. Kemudian dua sesi panel yang masing-masing akan membahas peran diplomasi digital dalam menghadapi situasi krisis serta diplomasi digital guna menunjang pembangunan ekonomi.

Selain itu terdapat pameran digital dan talkshow. Pameran diikuti oleh 16 startup Indonesia. Mereka akan berbagi pengalaman sebagai salah satu pertisipan dalam membangun ekonomi digital di Indonesia. (lir/gbr)