Round-Up

Curhatan 'Korban Bully' Pansel KPK di Depan Komisi III

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 10 Sep 2019 06:47 WIB
Pansel capim KPK dalam rapat dengar pendapat umum dengan Komisi III DPR (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Pintu ruang rapat Komisi III DPR kedatangan tamu spesial. Sembilan orang yang dalam beberapa bulan terakhir berada di tengah pro-kontra pemilihan calon pimpinan (capim) KPK.

Mereka merupakan pilihan Presiden Jokowi sebagai kepanjangan tangannya untuk mencari sosok-sosok paling mumpuni demi memerangi korupsi. Namun nyatanya sembilan orang yang tergabung dalam panitia seleksi (pansel) capim KPK itu tidak lantas adem ayem saja dari kritikan.

Perihal itu pula yang mengganjal dalam pikiran seorang anggota dewan bernama Jacki Uli. Politikus asal Fraksi Partai NasDem membaca apa yang beredar di media massa tentang isu-isu miring di balik sembilan orang itu.




"Yang kami lihat sekarang, yang beredar di media massa, bahwa tudingan itu ditujukan juga kepada pansel karena pansel ini dianggap ikut menyumbang pembunuhan karakter pada KPK," tanya Jacki.

Jacki berharap pansel capim KPK dapat mengklarifikasi tentang isu-isu yang didengarnya itu. Apalagi akhir-akhir ini DPR turut diterpa kritikan karena mengusulkan revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK karena dianggap melemahkan kinerja KPK nantinya.

"Apakah karena ada kolusi-kah? Apakah karena pertemanan-kah atau persaudaraan-kah? Tolong itu dibersihkan dulu, dijelaskan. Karena dari tudingan-tudingan yang beredar di media massa ini juga perlu kita perhatikan, karena ini membuat opini nanti," imbuh Jacki.



Yenti Garnasih yang memimpin rombongan pansel capim KPK tersebut buka suara. Dia menyampaikan adanya 'perundungan' yang dialami pansel capim KPK segera setelah sembilan nama itu diumumkan Jokowi.

"Sejak malam itu ditentukan nama-nama pansel itu, kita hanya selama 2-3 jam, setelah itu semua mem-bully. Semuanya Pak," kata Yenti.

Meskipun, menurut Yenti, dirinya pribadi dan pansel capim KPK tidak mengambil pusing hal itu. Namun Yenti tetap ingin mengklarifikasi isu-isu tersebut di hadapan anggota dewan.

"Yang saya ingat sekali bahwa semuanya tidak pantaslah," ucap Yenti.




Yenti menyebutkan 'perisakan' pada pansel capim KPK mulai tentang tuduhan ketidaktahuan soal KPK hingga latar belakang pribadi dari anggota pansel capim KPK. Tuduhan yang ditujukan pada Yenti disampaikannya soal staf ahli dari pejabat Polri.

"Bapak menanyakan sejauh mana kebenarannya? Tidak benar, tidak benar," kata Yenti.

Anggota pansel capim lainnya, Indriyanto Seno Adji, turut menyampaikan klarifikasi. Dia mengaku dituding berpihak pada Polri.

"Saya penasihat ahli memang dari sejak kapan saya penasihat ahli. Bukan hanya Polri, di TNI, Kementerian Pertahanan, di KPK kadang-kadang ditanya pendapatnya. Saya kira berdiri di atas basis objektivitas. Ahli, saya juga bukan ahli, saya narasumber-lah. Itu yang saya klarifikasi," tutur Indriyanto. (dhn/zak)