Tayangan Kekerasan Marak, KPI Seperti Macan Ompong
Kamis, 27 Okt 2005 06:27 WIB
Jakarta - Di tengah maraknya tayangan kekerasan, horor, mistik, dan seks di televisi nasional, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dinilai seperti macan ompong. Pasalnya, KPI belum berani bertindak tegas dan hanya bisa menegur.Kritik ini disampaikan anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PAN, Dedy Djamaludin Malik, dalam dialog publik penyiaran tentang "Violence, Horor, dan Sex" di Auditorium Bapeten, Jl. Gajah Mada, Jakarta, Rabu (27/10/2005).Karena itu Dedy mengimbau kepada KPI agar bisa bertindak lebih berani. Iimbauan itu diungkapkan Dedy karena merasa prihatin atas maraknya tayangan televisi yang berbau kekerasan, misteri, dan eksplorasi seks. Menurut Dedy, tayangan seks dianggap sebagai salah satu penyebab penyimpangan seksual di masyarakat. Tayangan semacam itu juga dianggap berperan besar mereduksi nilai-nilai mulia dari sebuah hubungan pernikahan.Banyaknya tayangan televisi berbau mistik dan misteri yang dibungkus pesan agama juga tidak akan menyadarkan pemirsa agar bertobatdari perbuatan maksiat, tetapi justru memperkuat resistensi pemirsa terhadap pesan agama. Dalam taraf tertentu bahkan mendidik pemirsa untuk mengambil jalan pintas saat menghadapi permasalahan."Saya menangkap kesan bahwa agama telah diterjemahkan menjadi semacam buldoser yang siap melumat segala macam tubuh yang durhaka pada Tuhan. Seolah-olah tidak ada lagi ruang ampunan untuk manusia yang bejat," kata pengamat komunikasi ini.Sementara tayangan kriminal dalam bentuk news dinilai Dedy telah gagal dalam menjalankan misinya dalam melatih pemirsa agar selalu waspada terhadap potensi kejahatan di nsekitarnya. Tayangan itu bahkan telah menjadi pendorong munculnya berbagai agresifitas perilaku manusia."Pemirsa justru dilatih untuk mendahulukan kekerasan ketimbang menyelesaikan perkara dengan dengan kepala dingin," demikian Dedy Djamaludin Malik.
(gtp/)











































