"Hari ini 14 orang yang sudah dipulangkan yang tadi kita temui di Kementerian Sosial untuk direhabilitasi untuk menghilangkan traumatik mereka. 9 di antaranya sudah kita bawa ke sini sedangkan 5 masih dalam proses rehab, traumatik karena kondisinya berbeda," ujar kuasa hukum yang juga advokat Jangkar PSI, Muannas Alaidid, di DPP PSI, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (6/9/2019).
Muannas mengatakan setiap korban dijebak dengan cara yang berbeda-beda. Menurut Muannas, keluarga korban juga dijanjikan sejumlah uang. "Mereka tahunya sebagai berjualan kosmetik dengan iming-iming gaji yang besar. Sebagian besar tahu kalau ingin dinikahkan. Keluarga dijanjikan dengan iming-iming tertentu. Faktanya korban tidak tahu, akhirnya diketahui keluarga, korban sudah ada di China," kata Muannas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muannas mengatakan setelah sampai di China, korban bukannya memperoleh pekerjaan namun dinikahkan dengan lelaki setempat. Muannas menyebut korban pun diperlakukan dengan cara yang tidak manusiawi.
"Mereka berangkat ke tempat pekerjaannya tahunya mereka itu di China ternyata bukan bekerja, tetapi mereka dinikahkan. Pada saat mereka dinikahkanlah akhirnya terjadi komunikasi bahwa mereka ternyata diperlakukan dengan hal-hal yang tidak manusiawi oleh suami dan keluarga suaminya di sana," kata dia.
Lalu, bagaimana 14 WNI ini berhasil pulang ke Indonesia?
Muannas menyebut pihaknya pada awalnya menerima aduan dari keluarga korban di Indonesia. Setelah itu, Jangkar PSI berupaya membantu dengan menghubungi para korban di China menggunakan aplikasi perpesanan, juga bantuan dari salah seorang rekan di China.
"Bahwa pemulangan ini proses pemulangan ini selama satu tahun. Ini adalah sebuah perjalanan panjang. Waktu itu permintaan bantuan tidak mudah mengetahui keberadaan mereka. Waktu itu saya hubungi salah satu rekan kita juga di China, warga negara China. Kebetulan ada warga negara China juga yang membantu persoalan ini," kata dia.
Para korban ini juga terkendala dua persoalan ketika hendak pulang ke tanah air. Pertama, korban memiliki dokumen pernikahan resmi dan yang kedua soal ongkos untuk kabur ke KBRI Beijing.
"Ketika kita crosscheck mereka kita lihat agak kesulitan, padahal sudah berkekuatan hukum tetap. Ketika kita telusuri kasusnya ada dua masalah hukum, pertama mereka terikat pernikahan dengan WN china. Kedua, mereka tidak pulang begitu saja dan paspor tidak dikasih oleh keluarga. Kemudian paspornya juga mereka disembunyikan, kedua adalah ongkos," kata Muannas.
Jangkar PSI lantas membantu dengan mengirimkan ongkos untuk kabur ke KBRI Beijing dengan menggunakan aplikasi. "Mereka memutuskan keluar dengan cara bergelombang. Kemudian mereka berupaya sedemikian rupa supaya bisa kabur. Kita kasih bantuan ongkos seadanya yang penting mereka sewa taksi dulu. Ngirim ongkosnya juga lewat wechat, jadi bukan transfer antarbank gitu. Orang rumit sedemikian rupa," sebut Muannas.
Setelah korban berada di KBRI di Beijing, Jangkar PSI, kata Muannas, menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memulangkan korban. Kemudian Jokowi diklaim menghubungi Menteri Luar Negeri untuk memulangkan korban ke Tanah Air.
"Ketika sampai pada saat pertemuan dengan Pak Jokowi kita sampaikan perkembangan kasus ini. Ini kita ada kesulitan untuk memulangkan mereka. Pak Jokowi telepon Menlu agar melakukan segera mengambil langkah terhadap persoalan ini," kata Muannas.
Salah seorang korban mengatakan perlu usaha besar untuk kabur dari rumah suami menuju KBRI di Beijing. Korban menyebut dia diperlakukan dengan cara yang tidak baik oleh keluarga suami selama di China. Korban disuruh bekerja dari pagi hingga malam.
"Bekerja dari 7 pagi sampai jam 7 malam, membuat 20 gelang. Baru dibayar, itu pun uang dipakai makan kita. Makan nasi kita beli, minum beli sendiri. Aqua dijatah buat minum. Kadang dikasih dari air keran," kata korban yang namanya disamarkan menjadi Mawar.
Selain itu, Melati, salah satu korban lainnya, mengaku tidak dikasih nasi selama satu bulan. "Kita mau pulang, kita mau bekerja, menikah. Mereka mengatakan 'Kami sudah membeli Anda dengan harga yang begitu mahal'. Kami minta ini itu nggak dikasih, nasi kita nggak dikasih yang ada selama berbulan-bulan kita tidak makan nasi. Kita cuma makan telur," ujar Melati.
Halaman 2 dari 3











































