BBM Naik, Pengemis Membengkak

BBM Naik, Pengemis Membengkak

- detikNews
Rabu, 26 Okt 2005 16:57 WIB
Palembang - Seperti Jakarta, menjelang Lebaran ini kota Palembang 'dibanjiri' pengemis. Pengemis wajah-wajah baru ini berkeliaran di pusat-pusat perbelanjaan, lampu-lampu merah, pasar, jembatan penyeberangan, masjid, serta yang berkeliling kampung. Jumlahnya diprediksi bertambah sebagai imbas kenaikan BBM.Meskipun dibanjiri pengemis, warga Palembang tampaknya tak begitu risih dengan kehadiran para pengemis tersebut. "Ya, ini kan penyakit tahunan menjelang Lebaran. Tapi, mereka kan susah, kalau kita ada ya kasih, kalau tidak ada, ya biarin saja," kata Ipung, warga Bukitbesar, Rabu (26/10/2005).Pengemis di pusat-pusat pertokoan umumnya adalah anak-anak dan orang tua, mereka menunggu di muka pintu masuk pertokoan atau kalau di pasar tradisional mereka akan memantau orang yang berbelanja, menyodorkan tangan saat orang itu mau membayar atau menerima kembalian.Sementara yang di lampu merah seperti sebelumnya yakni anak-anak, di masjid dari anak-anak hingga orang tua. Namun yang menarik, para pengemis yang keliling kampung tampak lebih sehat dan bersih. Mereka akan masuk ke halaman rumah penduduk sambil membawa tas, dan ada yang menawarkan diri seperti ini, "Pak, mau sedekah? Apa saja, uang, beras atau pakaian," katanya.Lalu, dari mana para pengemis baru atau pengemis musiman itu? Menurut Rina Bakrie, dari Yayasan Kuala Merdeka yang mendampingi anak jalanan dan perempuan miskin, kemungkinan besar mereka berasal dari pedalaman di Sumatera Selatan. "Mereka ini orang-orang miskin dari kalangan petani atau nelayan. Setiap mau Lebaran mereka biasanya datang ke Palembang, sebagian kerja tapi sebagian menjadi pengemis. Mereka mengumpulkan uang buat merayakan Lebaran di kampungnya. Nanti, dua atau tiga hari menjelang Lebaran mereka kembali ke kampungnya," katanya.Akibat kenaikan harga BBM, Rina memprediksi jumlah pengemis baru ini kemungkinan akan lebih tinggi lagi atau sebagian tidak mau pulang kampung. "Harga BBM kan naik. Semua tahu yang paling merasakannya adalah para petani dan nelayan. Saya percaya jumlah pengemis baru akan lebih besar dari sebelumnya, bahkan ada yang memutuskan tidak kembali karena merasa terselamatkan hidupnya dari mengemis," ujar Rina. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads