Irfan Wahid: Ada Salah Istilah soal Wisata Halal Danau Toba

Andhika Prasetia - detikNews
Selasa, 03 Sep 2019 05:07 WIB
Presiden Jokowi saat meninjau kawasan wisata Danau Toba. (Foto: Biro Pers Setpres)
Jakarta - Wacana untuk menyajikan wisata halal di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara oleh Pemprov Sumatera Utara menjadi kontroversi. Konsep ini dinilai ada kesalahan secara terminologi atau peristilahan.

"Saya melihatnya ada salah penggunaan terminologi di sini. Mungkin bukan wisata halal yang dimaksud, tetapi Muslim Friendly Tourism. Yaitu, wisatawan yang Muslim mudah mendapatkan makanan yang halal, mudah mendapatkan tempat salat, dan lain-lain," ujar Ketua Tim Quick Win 5 Destinasi Super-Prioritas, Irfan Wahid saat dimintai konfirmasi, Senin (2/9/2019).


Adapun kawasan Danau Toba merupakan salah satu destinasi wisata prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Quick Win dibentuk untuk mengakselerasi pengembangan potensi berbagai destinasi tersebut. Irfan menyebut, penggunaan istilah yang tepat untuk konsep wisata di Danau Toba adalah Muslim Friendly Tourism.

Pemandangan dari The Kaldera Glamping Danau Toba.Pemandangan dari The Kaldera Glamping Danau Toba. (Foto: Shinta Angriyana/detikcom)

"Jadi bukan Halal Tourism seperti di Sumatera Barat, Aceh ataupun NTB. Karena kan memang budaya dan local wisdomnya 3 daerah tersebut berbeda dengan Kawasan Toba. Sumbar, Aceh dan NTB jelas sekali mayoritasnya Muslim. Sementara kawasan Toba, mayoritasnya justru non-Muslim," jelas Irfan.

"Hal lainnya juga, adanya ambiguitas yang terjadi saat ini adalah banyak yang salah paham dengan konsep halal tourism. Halal tourism artinya muslim friendly tourism, kita membuat wisatawan Muslim yang datang nyaman tanpa mengubah DNA dari destinasi wisata yang sudah ada seperti Danau Toba," imbuh Irfan.
Selanjutnya
Halaman
1 2