detikNews
2019/09/02 18:59:22 WIB

Bahayanya Nasionalisme Rasis yang Picu Perang Dunia II 80 Tahun Silam

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Halaman 1 dari 4
Bahayanya Nasionalisme Rasis yang Picu Perang Dunia II 80 Tahun Silam Foto: Serangan Hitler di Polandia pada 1 September 1930 (AFP Photo/-)
Jakarta - Nasionalisme yang dijunjung Indonesia bukan berdasarkan ras, melainkan justru menghargai keberagaman. Namun nasionalisme dalam bentuk lain pernah mengancam dunia, yakni nasionalisme rasis yang tak perlu diteladani.

Jerman yang dikuasai oleh Nazi pimpinan Adolf Hitler adalah pemicu meletusnya Perang Dunia II pada 80 tahun yang lalu. Jerman ingin mencaplok sejumlah negara Eropa timur dalam satu kekuasaan. Semuanya bermula dari sebuah hasrat nasionalisme yang disebut Pan-Jermanisme.

Pan-Jermanisme: Nasionalisme Berbasis Ras

Pan-Jermanisme, German Pangermanismus atau Alldeutschtum merujuk pada definisi Encyclopaedia Britannica, adalah gerakan yang bertujuan menyatukan politik semua orang yang berbahasa Jerman atau rumpun bahasa Jerman.


Beberapa penganut gerakan ini mendukung penyatuan orang-orang berbahasa Jerman di Eropa tengah dan timur serta wilayah berbahasa Belanda dan Flemish. Gerakan ini mulanya berakar pada keinginan untuk penyatuan Jerman yang dirangsang oleh perang pembebasan (1813-1815) melawan Napoleon I. Kemudian momen ini dikipasi oleh nasionalis Jerman awal seperti Friedrich Ludwig Jahn dan Ernst Moritz Arndt.

Para pendukung konsep Jerman Raya juga ingin memasukkan bangsa Jerman dari Kekaisaran Austria ke dalam satu negara yang mereka kehendaki, dan yang lain juga ingin memasukkan orang Skandinavia.

Sebenarnya, dominasi Jerman di kawasan regional telah dimulai pada awal abad ke-9 Masehi dengan aksi 'ekspansi ke timur'. Hegemoni Jerman di Eropa tengah dan timur diklaim untuk memastikan perdamaian Eropa.

Pan-Jermanisme punya latar belakang konsep tentang ras, yakni satu ras lebih unggul (superior) ketimbang ras lainnya. Nazi sebagai promotor Pan-Jermanisme menyatakan ras Arya sebagai yang paling superior. Gagasan tentang superioritas "ras Arya" diusulkan oleh Joseph-Arthur, comte de Gobineau lewat tulisannya, 'Esai tentang Ketimpangan Ras Manusia' tahun 1853.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com