Mahasiswa UGM Demo Kecam Kenaikan Gaji DPR
Selasa, 25 Okt 2005 17:36 WIB
Yogyakarta - Kenaikan tunjangan sebesar Rp 10 juta/bulan bagi anggota DPR menuai kecaman. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa - Keluarga Mahasiswa (BEM - KM) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta hari ini menggelar demo menolak kenaikan tunjangan bagi anggota DPR. Aksi tersebut di gelar di BundaranUniversitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (25/10/2005). Dalam aksi itu, peserta demo mengusung beberapa poster di antaranya bertuliskan, 'Duduk, datang, tidur, bolos gaji naik, Tidur mimpi naik gaji, Aduuh uenak sekali, DPR ramai, itu biasa, DPR rakus juga biasa, Tunjangan DPR naik sungguh luar biasa, DPR = Dewan Penindas Rakyat.'Selain berorasi, peserta aksi juga membuat sejumlah kotak dari kardus dengan tulisan 'Sumbangan untuk DPR RI.' Kotak itu diedarkan kepada para pengguna jalan yang melintas di sekitar Bundaran UGM. Aksi itu merupakan sebuah simbolkeprihatinan atas keserakahan para wakil dalam memperkaya diri sendiri. Beberapa yang membawa kotak ada yang berteriak, 'silakan mengisi sumbangan untuk DPR, wakil kita yang terhormat sekali.' Akibat aksi tersebut, beberapa pengendara sempat tersenyum melihat aksi para mahasiswa itu.Presiden BEM-KM UGM, Hanta Yudha dalam orasinya mengatakan kenaikan gaji bagi anggota DPR itu sungguh mencederai hati rakyat. Pada saat rakyat harus menanggung beban derita yang berat akibat kenaikan harga BBM, DPR justru menaikkan gaji seenaknya. "Apa mereka tidak punya hati nurani dan perasaan. Di saat rakyat hidup susah, DPR justru berlomba saling memperkaya diri dengan meminta tambahan kenaikan gaji Rp 10 juta/bulan," kata Hanta.Hanta juga menyangsikan bila para wakil rakyat saat ini masih punya komitmen untuk membela kepntingan rakyat. DPR seharusnya ikut bersama pemerintah memikirkan nasib rakyat agar nasib dan kesejahteraannya meningkat. Namun malah sebaliknya yang dilakukan, mereka tidak memikirkan rakyat lagi tapi memikirkan diri sendiri. "Ini sungguh memalukansekali, mereka tidak mempunyai hati nurani," katanya.Menurut Hanta, setelah para wakil rakyat terpilih lewat pemilu 2004, hingga saat ini tidak pernah menunjukkan kerja yang maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya, sejak mereka duduk menjadi anggota DPR periode 2004-2005 itu ulah mereka semakin tidak terpuji, mulai dari tawuran, jadi calo anggaran dan hanya tidur dan mengantuknya saja saat sidang. "Kenaikan tunjangan Rp 10 juta per bulan itu harus kita tolak. Anggota DPR harus segera bertobat, selama ini justru perilakunya tidak bisa dijadikan teladan," kata Hanta.
(jon/)











































