Bentrok di Palu
Diyakini Ada 1 Lagi Polisi yang Tewas di Tangan Mahdi
Selasa, 25 Okt 2005 16:39 WIB
Palu - Hingga kini, belum jelas berapa polisi yang tewas akibat amukan pengikut ajaran Mahdi. Sebab, sejumlah polisi masih disandera pengikut Mahdi dan dibawa ke atas bukit. Diyakini, ada satu lagi polisi yang tewas saat disandera. Informasi ini disampaikan Kapolsek Palu Barat AKP Bayu Wijanarko kepada wartawan di posko pengamanan di markas ajaran Mahdi di Dusun Salena, Desa Buluri, Kecamatan Palu Barat, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (15/10/2005). Kapolsek berhasil menyelamatkan diri dari amukan pengikut Mahdi, meski kepalanya terluka. Saat menyelamatkan diri, Kapolsek melihat banyak anak buahnya yang ditangkap dan disandera pengikut Mahdi. "Saat itu saya melihat, ada teman saya yang dibawa dengan kondisi leher hampir putus. Dia terkena bacokan parang," kata Kapolsek yang masih tampak shock. Kapolsek belum bisa banyak bercerita karena dia sedang ditenangkan oleh tim medis. Darah dari bagian belakang kepalanya juga terus mengucur. Dia tampak sesekali merintih. Kapolsek tidak menyebutkan siapa nama anggota polisi yang disandera polisi dalam kondisi leher terluka bacokan parang itu. "Tapi, saya perkirakan dia telah gugur," kata Kapolsek terbata-bata. Bila memang, anggota polisi itu tewas, maka korban tewas dari pihak polisi berjumlah dua orang. Sebelumnya, Kasat Samapta Polres Palu AKP Fuadi juga telah ditemukan tewas di lokasi karena terkena bacokan parang di bagian perut. Sementara korban tewas dari pengikut Mahdi satu orang. Kapolsek berhasil menyelamatkan diri dari amukan pengikut Mahdi bersama dua anggota Reserse lainnya, Nasrun dan Yunan. Kedua anggota Reserse itu juga terluka. Namun luka yang ada pada tubuh mereka seperti luka cambuk. Keduanya belum bisa menceritakan kejadian itu, karena masih shock juga.Puluhan pengikut ajaran Mahdi ini mengamuk setelah belasan polisi yang dipimpin Kapolsek Palu Barat dan Kasat Samapta Polres Palu AKP Fuadi mendatangi markas Mahdi. Mereka akan membawa Mahdi ke Mapolsek Palu Barat untuk diperiksa terkait ajarannya yang teleh meresahkan warga sekitar. Namun, Mahdi menolak. Puluhan pengikutnya pun marah. Dengan berbekal parang, mereka menyerang aparat kepolisian yang saat itu mengenakan pakaian sipil (preman). Setelah diserang, aparat pun membalas dengan tembakan. Namun, akhirnya polisi terdesak setelah peluru mereka habis. Saat ini, pengikut Mahdi melarikan diri ke bukit sambil menyandera sejumlah polisi.
(asy/)











































