Berkah yang Bisa Berujung Petaka, Perkenalkan Ini Gunung Karangetang

Mustiana Lestari - detikNews
Jumat, 30 Agu 2019 10:41 WIB
Foto: Mustiana Lestari
Jakarta - Pulau Siau yang terletak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara malam itu terlihat terang dan memerah. Situasi malam ini memang seperti malam biasanya.

Bukan karena penerangan, tapi semburat cahaya merah itu merupakan lava yang meleleh dari dua puncak Gunung Karangetang. Lazimnya, jika melihat hal itu masyarakat panik, tapi tidak bagi warga yang tinggal di Pulau Siau. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa tak ada kepanikan.

"Kalau lava itu tidak pernah berhenti. Justru masyarakat di sini kalau gunungnya diam malah was-was. Mereka lebih senang gunungnya ada aktivitas seperti aktivitas ini dari dulu. Biasanya kalau diam (erupsi) akan besar. Dari dulu masyarakat sudah terbiasa," kata Bupati Evangelian Sasingen kepada detikcom, Rabu (14/8/2019).


Menurut Eva, meski rawan bencana, berkat Gunung Karangetang, tanah di Siau menjadi amat subur. Bahkan tanah vulkanik ini mampu membuat kualitas pala Siau jadi yang nomor satu.

"Jadi tambang masyarakat juga pasirnya untuk pembangunan jadi emang jadi berkah untuk masyarakat. Kalau dampak negatifnya was-was kalau erupsi skala besar. Dampak positifnya lahan pertanian jadi subur kalau erupsi besar lahan perkebunan jadi korban," sambung Eva yang meneruskan tampuk pimpinan suaminya ini.

Berkah yang Bisa Berujung Petaka, Perkenalkan Ini Gunung KarangetangFoto: Mustiana Lestari


Sementara itu, Penyelidik Bumi Muda PVMBG Gunung Karangetang Ugan Saing mengatakan gunung setinggi 1380 m dari permukaan laut ini berstatus siaga sejak November tahun lalu.

"Sekarang adalah yang terakhir setelah 2015. Dimulai dari peningkatan kegempaan pada 23 November, peningkatan gempa gugusan di tanggal 25 berlanjut gempa guguran di tanggal 27-28 November. Adanya peningkatan kegempaan tersebut kami memutuskan untuk menaikkan status pada 12 Desember 2018 dan sampai saat ini status tersebut masih diberlakukan," terangnya panjang lebar.

Berbeda dengan gunung api kebanyakan, menurut Ugan karakteristik Gunung Karangetang unik yaitu sifatnya erupsi efusif. Gunung ini mengeluarkan lava dari kawah dan lavanya itu gugur dari puncak.

Guguran itu kemudian di titik tertentu menumpuk lagi dan terjadi guguran selanjutnya. "Jadi kayak estafet keluar dari puncak ke kawah dua mengalir menumpuk dia bisa gugur lagi dan itu bisa menyebabkan awan panas," sambungnya.

Ugan belum dapat memprediksi dengan pasti aktivitas gunung api ini ke depannya. Segalanya bergantung data. "Berdasarkan data sampai saat ini untuk Karangetang belum ke arah sana. Belum ada potensi tapi tidak tertutup kemungkinan kalau kita ikuti datanya," tegas Ugan.

Oleh karena itu, sebagai upaya penyelamatan sementara, pihak PVMBG sudah menetapkan batas aman untuk warga mendekat kaki gunung.

"Dalam radius 2.5 m pusat erupsi atau puncak dari kawah utama dan kawah selatan itu adalah wilayah steril yang tanpa ada penduduk pendaki wisatawan dan sebagainya. Yang sektoral barat laut utara itu daerah Batu Bulan antara sungai Batu Are dan Samuang itu juga 4 km harus steril dari penduduk," tutupnya.

Untuk mengetahui informasi lainnya dari Kemendes PDTT klik di sini.

(mul/mpr)