Blak blakan dr Daeng M. Faqih

IDI Sarankan Kebiri Kimia Diganti Rehabilitasi

Sudrajat - detikNews
Jumat, 30 Agu 2019 06:57 WIB
Ketua Umum IDI dr Daeng M Faqih, SH, MH (Foto: Screenshoot 20detik)
Jakarta -

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M. Faqih mengungkapkan pihaknya telah menyarankan agar hukuman tambahan terhadap predator seks dalam bentuk rehabilitasi bukan kebiri kimia. Sebab di banyak negara kebiri kimia justru sudah banyak ditinggalkan karena kejahatan seksual dilakukan bukan cuma tingginya libido melainkan lebih banyak akibat gangguan jiwa.

"Kalau karena gangguan kejiwaan, pemberian antihormon lewat kebiri kimia dipastikan akan menimbulkan penderitaan terhadap si predator seks. Akibatnya, penyakit tak terobati dan sikap predatornya akan makin buas," kata Daeng kepada Tim Blak blakan di kantornya, Kamis (29/8/2019).

Di sisi lain, kebiri kimia juga bakal menimbulkan berbagai gangguan fisik sebagai efek samping lainnya yang membuat si terpidana lebih menderita. Karena itu IDI menolak menjadi eksekutor hukuman kebiri kimia. "Undang undang juga tidak menyebut dokter dan tenaga medis lainnya sebagai eksekutor, jadi tidak ada persoalan sebenarnya," kata dokter lulusan Universitas Brawijaya Malang itu.

Jika dokter menjadi eksekutor kebiri kimia, ia melanjutkan, hal itu berpotensi menimbulkan konflik norma, yakni etika kedokteran. Sebab perintah organisasi kesehatan dunia (WHO), dan Undang-undang Kesehatan melarang tindakan kebiri kimia tersebut. Dengan demikian, keliru bila ada yang menganggap IDI melawan hukum atau mengabaikan vonis pengadilan.

Untuk diketahui terpidana kasus pemerkosaan sembilan anak di Mojokerto, M. Aris bin Syukur divonis penjara 12 tahun dan hukuman tambaha kebiri kimia oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Mojokerto. Putusan itu diperkuat oleh Pengadilan Tinggi Surabaya pada 18 Juli 2019.

Rehabilitasi kejiwaan terpidana, menurut Daeng, akan lebih terukur keberhasilannya dibanding kebiri kimia. Di sisi lain, rehabilitasi sebetulnya lebih berat ketimbang kebiri kimia. Sebab seorang terpidana predator seksual baru benar-benar akan keluar penjara jika dari hasil evaluasi gangguan kejiwaannya telah pulih. Jadi, ia mengilustrasikan, bila seorang predator dihukum 10 tahun tapi selama itu dari hasil evaluasi rehabilitasi tak menunjukkan perbaikan, dia tak akan dikeluarkan dari penjara.

"Kalau belum sembuh lantas dibebaskan, ya sama saja melepas predator ke masyarakat. Sementara kebiri kimia mensyaratkan prosesnya selama dua tahun, dan bila waktunya sudah habis dia wajib dibebaskan meskipun belum pulih," papar Daeng.

Selengkapnya saksikan Blak blakan Ketua Umum IDI dr Daeng M. Faqih, "Kebiri Kimia, Hukuman atau Rehabilitasi" di detik.com, Jumat (30/8/2019).


Tonton Blak-blakan IDI: Kebiri, Hukuman Atau Rehabilitas

(jat/jat)