Dokter Tarmizi Hakim:
Di Singapura Munir Masih Sehat
Selasa, 25 Okt 2005 15:11 WIB
Jakarta - Mendiang Munir dipastikan masih sehat walafiat saat akan bertolak ke Belanda dari Singapura. Indikasi sehatnya Munir disampaikan dr Tarmizi Hakim yang menangani Munir saat terserang diare berat di atas pesawat Garuda yang membawanya ke Belanda.Dalam kesaksiannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jakarta, Selasa (25/10/2005), Tarmizi mengaku sempat berjalan beriringan dan berkomunikasi dengan Munir saat hendak masuk ke dalam lambung pesawat yang akan membawa mereka dari Singapura ke Belanda.Saat itu Tarmizi sempat menyapa Munir dan memperkenalkan diri seraya menanyakan tujuan kepergian Munir. Ketika itu Munir menjawab akan sekolah di Belanda. "Saat pertemuan itu, saya tidak melihat ada indikasi sakit," kata Tarmizi .Namun sekitar 2-3 jam setelah take off, Tarmizi mengaku dibangunkan oleh seorang kru Garuda bahwa Munir sakit perut berat dan buang-buang air, sehingga harus bolak-balik ke toilet."Saya melakukan diagnosa dalam keadaan darurat dan memberikan dua tablet, yakni satu tablet promaag, satu tablet santap, dan ditambah injeksi," katanya.Secara darurat yang diberikannya, kata Tarmizi , sudah tepat. Namun Tarmizi tidak tahu tindakan yang dilakukannya benar atau tidak, karena ia ahli jantung. Dia juga mengatakan tidak pernah melihat pasien muntah berat seperti yang dialami Munir."Sebelum saya datang, Munir muntah 6 kali. Kemudian sesudah saya datang, ia 3 kali muntah. Saat itu saya tidak curiga apa-apa. Mungkin hanya karena keracunan makanan. Muntahnya pun hanya cairan," ungkap Tarmizi.Saat itu, lanjut Tarmizi, ia sempat menanyakan kepada Munir, makanan apa yang dikonsumsinya sebelum naik ke pesawat. Saat itu Munir menjawab makanan yang disantapnya biasa saja, sehingga Tarmiji menduga Munir stres karena makanan atau kuman.Sempat pula ada seorang pramugari yang mengatakan, Munir maag-nya kambuh setelah minum air jeruk. "Tapi saya bilang jeruk tidak akan membuat sakit seperti ini," kata Tarmizi.Sesaat setelah diberi obat dan diinjeksi, Munir tertidur. Tarmizi pun kembali ke kursinya. Saat ia bangun, ia sempat bertanya kepada pramugari soal kondisi Munir. Salah satu pramugari menjawab Munir masih tidur.Ia lalu makan dan tidak lama kemudian salah satu awak kru bernama Majid Nasution memintanya untuk melihat kondisi Munir. "Ketika saya lihat, Munir sudah meninggal dengan ciri-ciri pupil melebar, nadi sudah tidak tidak berdetak dan jantung berhenti," katanya.Sampai saat ini, Tarmizi mengaku tidak pernah melihat hasil otopsi meninggalnya Munir. Padahal sebelumnya ia sempat mengajukan permintaan untuk diperkenankan melihat hasilnya.Tidak Lihat Ada PollySementara itu, tiga saksi lain dari kru Garuda, yakni Asep Rahman, Sri Suharni dan Dwi Purwanti mengaku melihat penderitaan Munir. Namun ketiga ekstra kru itu dalam kesaksiannya mengaku tidak mengetahui keberadaan terdakwa pembunuh Munir, Pollycarpus, ada di pesawat yang menuju Belanda itu."Saya melihat Munir ketika hendak membagikan makanan sewaktu penerbangan Singapura-Amsterdam, dan setahu saya Munir tidak makan, karena saya lihat makanannya tersimpan di bawah dan masih tertutup rapi," kata Asep.Asep lalu mengatakan, sempat melihat Munir muntah selama penerbangan. Munir muntah di lantai dan di bangku. Ia juga sempat terkena muntahan Munir. Asep mengaku ia ditugasi atasannya untuk melayani Munir, karena Munir sempat keluar masuk toilet."Saya tahu Munir meninggal saat diberitahu purser, setelah Munir meninggal saya membacakan Alquran dan bertahlil," katanya.Sedangkan saksi Sri Suharni mengaku tidak pernah melihat Polly selama penerbangan, tapi ia mengaku kenal dengan Polly. "Saya selama penerbangan Jakarta-Singapura memanfaatkan waktu untuk tidur, karena saya akan bertugas pada penerbangan Singapura-Amsterdam," katanya.Saat penerbangan Singapura-Amsterdam, Sri mengaku melihat Munir duduk di kelas ekonomi. Saat itu ia melihat kondisi Munir masih sehat."Tapi sewaktu Munir muntah, saya diminta dr Tarmizi untuk menyiapkan aqua satu gelas dan garam. Aqua itu masih disegel dan garam masih dalam sachet," ungkapnya.Sementara saksi Dewi juga mengaku kenal terdakwa Polly, tapi tidak melihat terdakwa dalam penerbangan. "Dalam pesawat saya melihat Munir mengeluh sakit di dada. Saya juga melihat Munir muntah. Baju saya sempat terkena muntah, tapi muntahnya tidak bau," kata dia.Ketika Munir muntah-muntah, salah seorang penumpang bernama Lee sempat mengatakan, apa yang dimakan Munir sama dengan yang dimakannya, yakni mi goreng.Untuk memastikan, Dewi bertanya dengan spontan makanan yang dimakan Munir. Namun saat itu Munir menjawab makanan yang disantapnya biasa saja. "Saya sendiri tidak tahu apa yang dimakan Munir, sebab saya menangani kelas bisnis, sedangkan Munir duduk di kelas ekonomi," katanya.
(umi/)











































