Penderita Stres dan Depresi di Daerah Juga Meningkat

Penderita Stres dan Depresi di Daerah Juga Meningkat

- detikNews
Selasa, 25 Okt 2005 11:02 WIB
Semarang - Peningkatan penderita stres dan depresi tidak hanya dialami di Jakarta. Di Semarang, pasien rawat jalan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Amino Gondo Utama Semarang meningkat pesat. Sementara di Padang, RSJ Gadut telah mengantisipasi potensi kenaikan penderita sakit jiwa. Penderita stres dan depresi yang berobat ke RSJ Amino Gondo Utomo mencapai sekitar 60-70 orang per hari pada bulan Oktober. Pada bulan-bulan sebelumnya, jumlah penderita depresi jauh di bawah angka itu. "Kebanyakan sih karena persoalan ekonomi. Mungkin saja soal BBM. Mereka kan tidak pernah terus terang kenapa anggota keluarga mereka sakit," tutur Direktur RSJ Amino Gondo Utomo Semarang, Izzudin, beberapa waktu lalu. Hingga Selasa (25/10/2005), jumlah pasien rawat jalan di RSJ Semarang masih berada di angka itu. Memang tidak bisa dipastikan apakah peningkatan penderita depresi ini akibat kenaikan harga BBM. Mungkin, dampak secara tidak langsung bisa jadi ada. Misal, gara-gara BBM naik, maka beban ekonomi yang dipikul masyarakat kian berat. Gara-gara beban hidup ini, masyarakat menjadi stres dan depresi. Sementara di RSJ Gadut, Padang, pasien sakit jiwa memang belum tampak meningkat. Namun, Direktur RSJ Gadut, Padang, Dr. H. Heryezi Tahir memperkirakan ada kemungkinan peningkatan penderita depresi. Apalagi, sebagian besar pasien di RSJ Gadut berasal dari kalangan miskin. Menurut dia, melambungnya harga-harga memperbanyak potensi masyarakat terkena stres dan depresi. "Hal itu dapat saja menjadi kenyataan karena biaya hidup yang terus meninggi berpotensi membuat orang stres," ucap dia saat dihubungi detikcom, Senin (24/10/2005) kemarin. Dikatakan Herzeyi, saat ini RSJ Gadut memiliki sekitar 200 unit tempat tidur. Jumlah itu dirasakan masih kurang karena jumlah kedatangan pasien tidak bisa diduga. Bila tidak diantisipasi, bisa-bisa bila nanti banyak pasien sakit jiwa yang datang, akan tidak tertampung. Lebih lanjut, Herzeyi mengatakan, selain kekurangan tempat tidur dan ruangan, RSJ Gadut juga masih kekurangan perawat dan psikiater. "Kita masih membutuhkan sekitar 30 pegawai lagi dari sekitar 230 pegawai yang kita miliki. Untuk mengantisipasi melonjaknya jumlah pasien, kita akan prioritaskan penambahan ruangan dalam waktu dekat," demikian Heryezi Tahir. (asy/)


Berita Terkait