"Pemerintah Indonesia masih menganggap kasus rasisme pada mahasiswa Papua bukan hal yang besar. Padahal kasus rasisme adalah penghinaan pada kemanusiaan. Yang paling pas bagi warga Papua adalah memberikan hak demokratis memperjuangkan haknya dengan menuntut referendum," ujar Aan di depan Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Senin (26/8/2019).
Dalam aksinya, mereka mengecam penghinaan dan penyerbuan mahasiswa Papua di asramanya. Mereka juga menuntut pembebasan 36 warga Papua yang ditahan di Timika, dan meminta Kementerian Kominfo membuka akses jaringan internet di Papua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan di lokasi, puluhan personel Polrestabes Makassar dan Polsek Ujung Pandang datang menengahi dua kelompok massa, agar tidak terjadi bentrok antar kedua kelompok.
"Kami sepakat untuk menolak aksi rasisme, tapi kami adalah orang yang menghargai jasa pendahulu kami, tidak akan rela Makassar untuk mereka melakukan aksi mendukung OPM," ujar koordinator BMI Zulkifli.
Akitivis Tuding Ada Politikus yang Adu Domba Banser-Warga Papua:
(idn/idn)











































