Harga BBM Naik, Penderita Stres dan Depresi Meningkat Pesat
Selasa, 25 Okt 2005 07:51 WIB
Jakarta -
Kenaikan harga BBM seratus persen lebih awal Oktober 2005 lalu membuat banyak masyarakat shock. Mereka mendapat tekanan luar biasa dalam mempertahankan hidup. Penderita stres dan depresi meningkat luar biasa. Entah siapa yang perlu disalahkan atas keputusan kenaikan harga BBM itu. Yang jelas, banyak warga yang menjadi korban, terutama keluarga yang hidup pas-pasan. Dengan penghasilan yang tetap, seorang kepala keluarga harus tetap bisa menghidupi keluarganya. Sementara kehidupan dikelilingi dengan kenaikan harga di segala sektor, sebagai dampak dari kenaikan harga BBM. Ada masyarakat yang bisa bertahan dan bersabar dengan goncangan ini. Namun, banyak pula masyarakat yang akhirnya malah stres dan depresi. Jiwa mereka terganggu. Kasihan!Meningkatnya jumlah penderita stres dan depresi ini, salah satunya bisa dilihat dari pasien rawat jalan yang berobat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jakarta. Sejak awal Oktober 2005, penderita stres dan depresi yang datang ke dokter jiwa di RSJ ini meningkat pesat, bahkan sampai 100 persen. Siti Sahnum, Kepala Seksi Perawatan III RSJ Jakarta saat ditemui detikcom di RSJ, Jl. Latumenten 1, Jakarta Barat, Senin (24/10/2005) kemarin memberikan data tentang meningkatnya jumlah pasien rawat jalan. Menurut dia, sebelum Oktober, jumlah pasien rawat jalan yang datang ke RSJ hanya berkisar 20-30 orang per hari. Tapi, di bulan Oktober, pasien yang datang antara 31-66 orang per hari. Berikut data jumlah pasien rawat jalan selama bulan Oktober 2005 yang didapatkan detikcom: 3 Oktober: 66 orang4 Oktober: 43 orang5 Oktober: 31 orang6 Oktober: 41 orang7 Oktober: 20 orang10 Oktober: 52 orang11 Oktober: 33 orang12 Oktober: 43 orang13 Oktober: 49 orang14 Oktober: 38 orang17 Oktober: 55 orang18 Oktober: 49 orang20 Oktober: 44 orang24 Oktober: 48 orang"Mereka datang ke sini dengan berbagai macam keluhan, seperti stres, gelisah, tidak bisa tidur, dan tidak mau makan," kata Siti Sahnum.Sahnum tidak bisa memastikan bahwa kenaikan penderita stres ini sebagai dampak kenaikan harga BBM. "Tapi, mungkin mereka terhimpit kondisi sosial ekonomi," ungkap dia. Tidak ada data, sebenarnya dari kalangan mana saja para penderita stres dan depresi ini, apakah dari kalangan orang miskin, menengah, atau kaya. "Di sini, mereka hanya diberi obat penenang anti depresi, dan diperbolehkan pulang," ujar Siti. Sementara itu, pasien rawat inap di RSJ Jakarta tidak ada penambahan. Hingga 24 Oktober, RSJ dihuni oleh 104 penderita jiwa laki-laki dan 34 penderita perempuan.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































