detikNews
Jumat 23 Agustus 2019, 18:00 WIB

Warga Korban Kebakaran Lahan Gambut di Riau Bangkit dengan Tanam Nanas

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Warga Korban Kebakaran Lahan Gambut di Riau Bangkit dengan Tanam Nanas Foto: Pertamina
Pekanbaru - Pasca kebakaran lahan gambut berkepanjangan, yang terjadi di sebagian besar wilayah provinsi Riau, pada tahun 2012-2015 lalu, menyebabkan kerugian secara materiil dan moril. Salah satunya, hilangnya lahan pertanian dan perkebunan warga.

Sadikin, salah satu warga yang tinggal di RW 06 di kelurahan tersebut pun turut tergerak menjadi relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang diinisiasi oleh Kelurahan Sei Pakning Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.

"Saat itu, panen pertanian dan perkebunan warga hilang begitu saja. Banyak masyarakat terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)," ujar Sadikin dalam keterangannya, Jumat (23/8/2019).

Meski lahan gambut miliknya tidak ikut terbakar, sebagai relawan MPA, dia bersama beberapa warga yang biasa disebut Kampung Jawa tersebut berinisiatif melanjutkan pemadaman dengan membentuk tim Masyarakat Gotong Royong Pencegah Kebakaran Lahan Gambut (Karlahut) yang dibina oleh Polsek Bukit Batu.

"Karena di Kelurahan Sei Pakning ada dua tim relawan pemadam Karlahut yang fungsinya sama, akhirnya disepakati digabung dengan nama Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga saat ini," terangnya.

Bangkit Bersama

Ia bersyukur, kebakaran lahan gambut di Kampung Jawa saat itu dapat dipadamkan. Agar kembali produktif, masing-masing pemilik lahan pun menanami kembali dengan kayu hutan, karet, dan sawit, sedangkan sebagian lainnya secara berkelompok menanam nanas dan tanaman buah.

"Lahan di RW 06 tidak semuanya milik warga Kampung Jawa. Jadi tidak semua lahan gambut di RW 06 ditanam nanas," sebutnya.

Sadikin bersama warga Kampung Jawa lainnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Makmur menanam nanas dan tanaman buah di atas lahan 14,5 hektar milik salah satu warga Kampung Jawa.

"Kami terdiri dari 15 orang dan lima di antaranya adalah anggota MPA," imbuhnya.

Bukan tanpa alasan Kelompok Tani Tunas Makmur menanam nanas di atas lahan gambut. Karena jenis tanaman ini merupakan tanaman yang paling tahan terhadap lahan masam, sesuai karakteristik lahan gambut. Pada tanah pH 3,0 nanas tumbuh dan berproduksi dengan baik, padahal tanaman lain pasti mendapat gangguan pertumbuhan dan hasil.

"Dengan menanam nanas, kita tidak perlu melakukan pembakaran lahan seperti yang dilakukan jika menanam pohon jenis lainnya. Perawatannya pun mudah," tukas Sadikin.

Menuai Hasil

Upayanya, bersama Kelompok Tani Tunas Makmur membuahkan hasil yang menggembirakan. Nanas yang ditanam sejak 2015 tersebut, 14 bulan kemudian berhasil panen. Setelah itu, berturut-turut enam bulan kemudian mereka panen kembali, disusul panen tiga bulan kemudian.

"Setelah panen ketiga, kita harus meremajakan lagi kebun nanas agar buah yang dihasilkan tetap besar dan bagus. Hasil panen ada yang dijual segar, ada juga yang diolah menjadi kripik nanas, dodol, manisan, wajik nanas, selai, sirup, dan olahan lainnya oleh para istri petani nanas," ungkap Sadikin.

Agar hasil jerih payah warga Kampung Jawa ini dikelola dengan baik, warga Kampung Jawa ini sepakat membentuk Koperasi Tunas Makmur.

Hibahkan Lahan Pribadi

Sementara itu, salah satu obsesi Sadikin menjadikan lingkungan di sekitarnya bebas dari kebakaran lahan gambut. Serta sebagai bentuk kerinduannya pada sang putri, dia membuat taman bermain di atas lahan gambut yang dimilikinya seluas 1 Km.

"Selain ada fasilitas bermain, lahan tersebut saya tanami pohon buah-buahan seperti jambu air, rambutan, mangga, jeruk kwini, durian, dan cempedak. Lahan tersebut menjadi sejuk dan dapat menjadi tempat bermain anak-anak Kampung Jawa," tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, pada 2016, taman bermain tersebut diubah menjadi Arboretum gambut pertama di Sumatera. Arboretum Gambut tersebut memiliki daya tarik tersendiri karena menyimpan lima tanaman endemik Sumatera yang salah satunya tercatat sebagai hampir punah (vulnerable) di IUCN, yaitu Kantung Semar (Nepenthes Spectabillis).

"Arboretum gambut ini diberi nama Marsawa yang berasal dari singkatan Marsela, Sadikin, Wati, Wahyu. Arboretum ini menjadi salah satu sarana eduwisata yang dikelola oleh Koperasi Tunas Makmur sehingga selain memberikan dampak ekonomi bagi warga Kampung Jawa, juga memberikan sumbangsih bagi dunia pendidikan dengan dijadikan penelitian dan kunjungan studi," jelasnya.

Sadikin sangat senang karena makin banyak masyarakat berbagai kalangan yang berkunjung ke Arboretum Gambut Marsawa. Setiap hari, ia dan beberapa anggota koperasi membuka ekowisata ini mulai pukul 14.00 - 17.30 WIB pada hari Senin hingga Kamis, dan pukul 08.00 - 17.30 WIB pada Sabtu - Minggu.

"Jika ada siswa atau mahasiswa yang mau melakukan penelitian atau kepentingan pendidikan lainnya, kami bisa melayani kapan saja," pungkasnya.
(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com