Jika Terbukti Melenceng, Pesantren Ngruki Siap Ditutup

Jika Terbukti Melenceng, Pesantren Ngruki Siap Ditutup

- detikNews
Senin, 24 Okt 2005 16:13 WIB
Solo - Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, menyesalkan pernyataan Jusuf Kalla tentang rencana penutupan pesantren. Pesantren Ngruki terbuka untuk diperiksa. Dan bila terbukti ponpes melenceng, pimpinan pesantren mempersilakan pemerintah menutup lembaga itu. Hal itu disampaikan Direktur Pesantren Al Mukmin, Ustad Wahyuddin, kepada wartawan di kantor pesantren Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo, dalam jumpa pers, Senin (24/10/2005). Jumpa pres tersebut digelar, karena banyak pertanyaan yang diajukan ke Al-Mukmin setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta pengawasan ketat dan kemungkinan penutupan beberapa pesantren yang dinilai menyuburkan faham kekerasan."Kalau memang para pejabat dan pihak-pihak di luar pesantren masih curiga, maka silakan diperiksa. Kalau memang ditemukan pendidikan yang kami berikan melenceng dari hukum Islam dan undang-undang yang berlaku di negara ini silakan ditutup," kata Wahyuddin. Lebih lanjut, Wahyuddin menantang para pejabat di Indonesia untuk merasakan kehidupan dan pengajaran di pesantren tersebut. "Kepada para pejabat, silakan titipkan anak-anak Anda kepada kami 3-5 tahun. Setelah itu silakan dievaluasi hasilnya," ujarnya.Bila memang, kata Wahyuddin, ada beberapa alumni pesantren yang terlibat kekerasan, seharusnya pemerintah tidak mempersalahkan lembaga. "Kalau ada oknum yang melakukan kesalahan bukan lembaga yang harus menanggungnya. Kami justru jadi curiga. Pada kami ini tidak ada apa-apa, tapi dianggap ada apa-apa, maka dipastikan ada apa-apa di balik itu," lanjutnya.Wahyuddin menyesalkan pernyataan Kalla yang akan membatasi dan mengawasi beberapa pesantren terkait masih maraknya aksi terorisme. "Pernyataan Wapres tersebut tidak mencerminkan pernyataan seorang negarawan yang selayaknya arif dan bijak sehingga segala tindak-tanduknya mampu menentramkan kehidupan seluruh rakyatnya. Dia sama sekali tidak mempertimbangkan dampak negatif yang akan jauh lebih banyak muncul daripada dampak positif dari pernyataannya itu," tandas Wahyuddin. Lebih lanjut, Wahyuddin menilai pernyataan Jusuf Kalla itu semakin menunjukkan dia telah semakin jauh terseret pada skenario global yang ingin melemahkan kekuatan muslim di Indonesia. Bahkan dengan terbuka, Wahyuddin menyebut sang Wapres sebagai Jusuf Kalap karena semakin panik menghadapi tekanan pihak kepentingan.Wahyuddin juga menentang keras rencana penanganan keamanan, terutama penekanan aktivitas pesantren, dengan cara-cara Orde Baru seperti yang direncanakan oleh Kalla. Dia lalu menceritakan pengalamannya dijebloskan tahanan oleh Rezim Orba selama 1 tahun 2 bulan pada tahun 1979 hingga 1980 tanpa pernah dibawa ke pengadilan."Apakah sesuatu yang buruk seperti itu akan diulang. Di saat Kopkamtib, koter atau apapun namanya itu masih ada, rakyat selalu hidup dalam tekanan. Apakah kita akan mendukung lagi lembaga itu dihidupkan. Tapi saya kira dia (Kalla) memang sudah sangat panik dan takut karena khawatir dipersalahkan oleh pihak kepentingan di belakangnya," kata Wahyuddin.Ajak DialogWahyuddin juga mengatakan bahwa selaku salah satu anggota Majelis Pimpinan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI) dirinya telah mengusulkan agar lembaga itu mengundang Jusuf Kalla untuk berdialog. Dikatakan dia, BKSPPI telah melayangkan surat kepada Wapres untuk bersedia berdialog agar menjadi jelas apa yang dimaui Wapres."Kalau memang maunya baik ya didukung, tapi kalau memang dia sedang keliru ya perlu kita ingatkan. Saya tahu betul bahwa Jusuf Kalla sebagai seorang muslim bukan sosok yang awam terhadap dunia pesantren. Tapi mengapa tiba-tiba dia mengeluarkan pernyataan seperti itu, itulah yang harus dijelaskannya kepada para pengasuh pesantren," kata Wahyuddin. (asy/)


Berita Terkait