Bantuan duka ini merupakan wujud kepedulian Pemerintah Kota Semarang terhadap warga miskin atau tidak mampu saat berduka, sebagaimana amanat Peraturan Wali kota Semarang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Pemberian Bantuan Sosial Tidak Terduga berupa santunan kematian bagi warga miskin atau tidak mampu.
"Kami masih terus mengupayakan bagaimana supaya bisa menggratiskan biaya pemakaman, sehingga akan meringankan beban keluarga yang sedang berduka," ungkap Hendi sapaan akrabnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Hendi meyakinkan bahwa komitmen penggratisan biaya pemakaman tersebut tetap kuat dan akan terus diperjuangkan. Ke depan, Hendi yakin dan optimis biaya hidup di Kota Semarang dari kelahiran, pendidikan, kesehatan, hingga kematian dapat benar-benar digratiskan.
Pasalnya, saat ini Wali Kota Semarang tersebut telah berhasil menginisiasi sejumlah program gratis, dari melahirkan dengan UHC, sekolah negeri gratis, hingga bersiap untuk menggratiskan sekolah swasta pada 2020.
Untuk itu, Hendi sangat berharap penggratisan biaya pemakaman dapat dirasakan seluruh warga Kota Semarang yang berduka. "Jangan sampai sudah berduka, masih menanggung dan dibebani biaya pemakaman," ungkap Hendi.
Penyerahan BT2SK ini merupakan tahapan keempat setelah tiga hari sebelumnya berturut-turut diserahkan total 377 ahli waris dari berbagai kecamatan se-Kota Semarang dengan total 512 penerima. Penerima bantuan adalah warga miskin atau tidak mampu yang terdata pada BDT (basis data terpadu) 2018.
Hendi pun berharap apa yang diterima oleh warga Kota Semarang ini dapat meningkatkan rasa cinta warga kepada kotanya. Diakuinya, memang belum sempurna pelayanan kepada warga, tetapi dia yakin dan optimistis semua bisa diperbaiki bersama-sama. Yang terpenting, lanjutnya, ada semangat untuk lebih peka dan mencari solusi bersama.
"Yang penting mau cerita apa kendala dan masalah yang dihadapi untuk kita cari solusi bersama," tutur Hendi yang bercanda tak memiliki ilmu khusus kebatinan. (idr/mpr)











































