Ki Hajar Dewantara, Inilah 5 Fakta Sejarah Perjuangannya

ADVERTISEMENT

Ki Hajar Dewantara, Inilah 5 Fakta Sejarah Perjuangannya

Abdul Jalil - detikNews
Rabu, 21 Agu 2019 17:03 WIB
Foto: Pranata (1959) Ki Hadjar Dewantara : Perintis perdjuangan kemerdekaan Indonesia, Balai Pustaka. (Wikimedia Commons)
Jakarta -

Ki Hajar Dewantara atau sering dikenal dengan bapak Pendidikan Nasional adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia. Penasaran dengan kisah perjuangannya?

Lewat perjuangannya di bidang politik dan pendidikan inilah, kemudian pemerintah Republik Indonesia menghormatinya dengan berbagai jabatan dalam pemerintahan RI. Seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1950 dan mengangkat Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1959.

Berikut 5 Fakta Sejarah Perjuangan Ki Hajar Dewantara yang dikutip dari berbagai sumber:



1. Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Dia lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, putra dari Gusti Pangeran Haryo Soerjaningrat, atau cucu Sri Paku Alam III. Dari genealoginya, Ki Hajar Dewantara adalah keluarga bangsawan Pakualaman. Sebagai bangsawan Jawa, Ki Hajar Dewantara mengenyam pendidikan Europeesche Lagere School (ELS), yakni Sekolah Rendah untuk Anak-anak Eropa. Kemudian setelah lulus, Ki Hajar Dewantara mendapat kesempatan masuk STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen), biasa disebut Sekolah Dokter Jawa. Namun karena kondisi kesehatannya tidak mengizinkan, sehingga Ki Hajar Dewantara tidak tamat dari sekolah ini.

2. Menjadi Jurnalis

Sesudah meninggalkan STOVIA, Ki Hajar Dewantara belajar sebagai analis pada laboratorium Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas. Setelah satu tahun beliau keluar karena dicabut kesempatan belajarnya secara cuma-cuma. Kemudan menjadi pembantu apotiker di Apotik Rathkamp, Malioboro Yogyakarta (1911), sambil menjadi jurnalis (wartawan) pada Surat Kabar "Sedyotomo"(Bahasa Jawa), dan "Midden Java" (Bahasa Belanda) di Yogyakarta dan "De Express" di Bandung.

Karena tulis-tulisan itu, Ki Hajar Dewantara dan bersama 2 temannya yakni, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Dr. E.F.E. Douwes Dekker, ditangkap dan ditahan dalam penjara. Kemudian pada 18 Agustus 1913 keluarlah Keputusan Pemerintah Hindia Belanda N0. 2a, Ki Hajar Dewantara dibuang ke Bangka, dr. Cipto Mangunkusumo ke Banda Neira, dan Dr. E.F.E. Douwes Dekker ke Timor Kupang. Namun atas kesepakatan mereka bertiga meminta supaya dibuang ke Belanda, dan permintaan mereka dikabulkan.

Saat menjalani pengasingannya di Belanda, Ki Hadjar Dewantara kemudian mulai bercita-bercita untuk memajukan kaumnya yaitu kaum pribumi. ia berhasil mendapatkan ijazah pendidikan yang dikenal dengan nama Europeesche Akte, atau ijazah pendidikan yang bergengsi di Belanda. Ijazah inilah yang membantu Beliau untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang akan ia buat di Indonesia. Di Belanda pula ia memperoleh pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

3. Organisasi Yang Diikuti Ki Hajar Dewantara

Berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, sebagai organisasi sosial dan politik kemudian mendorong Ki Hadjar
untuk bergabung di dalamnya. Di Budi Utomo ia berperan sebagai propaganda dalam menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia.

Pada tahun 1912 Ki Hajar Dewantara diajak oleh Douwes Dekker ke Bandung untuk bersama-sama mengasuh
Suratkabar Harian "De Express". Douwess Dekker kemudian mengajak untuk mendirikan organisasi yang bernama Indische Partij yang terkenal. Yakni partai politik pertama yang berani mencantumkan tujuan ke arah "Indonesia Merdeka".

Selanjutnya pada Juli 1913 Ki Hajar Dewantara bersama dr. Cipto Mangunkusumo di Bandung, mendirikan "Comite Tot Herdenking van Nederlandsch Honderdjarige Vrijheid", dalam bahasa Indonesia disingkat Komite Bumi Putera, yaitu Panitia untuk memperingati 100 tahun Kemerdekaan Belanda. Komite tersebut bertujuan untuk memprotes akan adanya peringatan 100 tahun Kemerdekaan Belanda, dari penjajahan Perancis yang akan diadakan pada 15 Nopember 1913.



4. Bentuk Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Di bidang pendidikan, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa, pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik, agar mencintai bangsa dan Tanah Airnya, serta berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Prasarana Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan Nasional dan penyelenggaraan/pembinaan perguruan nasional, diterima oleh Kongres Perkumpulan Partai-partai Politik Kebangsaan Indonesia (PPKI) di Surabaya. Dalam kongres yang berlangsung 31 Agustus 1928 tersebut, Beliau mengemukakan perlunya pengajaran nasional sebelum bangsa Indonesia mempunyai pemerintahan nasional sendiri.

Di bidang pers, bagi Ki Hadjar Dewantara majalah atau surat kabar merupakan wahana yang sangat penting bagi suatu lembaga untuk menyebarkan cita-citanya kepada masyarakat. Oleh karena itu, beliau menerbitkan brosur dan majalah "Wasita" (tahun 1928-1931), selanjutnya menerbitkan majalah "Pusara" (1931). Di samping kedua majalah tersebut, Ki Hadjar Dewantara juga menerbitkan Majalah "Keluarga" dan "Keluarga Putera" (1936).

Sedangkan di bidang kesenian, Ki Hadjar Dewantara mengarang buku methode/notasi nyanyian daerah Jawa "Sari Swara", diterbitkan tahun 1930 oleh JB. Wolters. Dari buku tersebut, Ki Hadjar Dewantara menerima royalty, untuk membeli mobil Sedan Chevrolet. Sebelumnya, beliau pada tahun 1926 menciptakan lagu/gendhing Asmaradana "Wasita Rini" diperuntukan bagi para anggota Wanita Tamansiswa.

5. Quotes Ki Hajar Dewantara

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya, sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia hingga kini. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi "ing ngarso sung tulodo", "ing madyo mangun karso", "tut wuri handayani" yang artinya "di depan memberi contoh", "di tengah memberi semangat", "di belakang memberi dorongan."

Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Taman siswa.

Berkat jasa dan Keteguhan hatinya, untuk memperjuangkan nasionalisme Indonesia lewat pendidikan, Ki Hajar Dewantara kemudian mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada. Meski perjuangannya belum selesai untuk mendidik putra bangsa, jelas Ki Hajar Dewantara memelopori lahirnya pendidikan di Indonesia.


Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959 dimakamkan di pemakaman keluarga Taman Siswa Wijaya Brata, Yogyakarta.

(nwy/nwy)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT