Ditangkap di Malaysia, Bos Sindikat Nigerian Scam Akan Dibawa ke Indonesia

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Selasa, 20 Agu 2019 16:12 WIB
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo (Audrey/detikcom)
Jakarta - Bareskrim Polri menangkap DPO sindikat peretasan e-mail atau Nigerian scam yang menggasak saldo rekening korbannya sebesar 6,9 juta euro atau sekitar Rp 113 miliar. Tersangka yang ditangkap di Malaysia merupakan master mind atau pemberi perintah dalam kelompok itu.

"Bareskrim Polri telah melakukan penjemputan terhadap DPO atas nama Nurul Ainulia alias Iren dari negara Malaysia," kata Kaubdit II Ditsiber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (20/8/2019).

Nurul dipulangkan dari Malaysia pada Jumat (16/8) lalu. Polri bekerja sama dengan pihak kepolisian Malaysia dalam pemulangan tersebut.


Rickynaldo mengatakan Nurul berperan memberikan perintah membuat perusahaan dan rekening untuk menampung uang hasil kejahatan. Setelah itu, uang hasil kejahatan yang dikumpulkan dari negara lain ditukarkan dalam bentuk mata uang negara tertentu.

"Memerintahkan tersangka lainnya untuk menukarkan uang hasil kejahatan tersebut ke dalam bentuk mata uang asing di beberapa money changer dan kembali mengumpulkannya kemudian menyerahkan uang keseluruhan hasil penukaran valas kepada WNA Nigeria dengan inisial AEM dan beberapa sindikat lainnya," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, aksi sindikat ini pertama kali terungkap pada 31 Mei 2019, ketika perusahaan OPAP Investment Limited sedang melakukan audit keuangan terhadap bendahara perusahaan yang merupakan warga negara Yunani atas nama Zisimos Papaioannou.

Hasil audit menunjukkan telah terjadi pembayaran dengan nominal 4,9 juta euro pada 16 Mei 2019 dan 2 juta euro pada 23 Mei 2019. Karena merasa tak melakukan transaksi tersebut, korban merasa e-mail-nya diretas.

"Kemudian pihak perusahaan melaporkan kepada Kepolisian Siber Yunani dan Bareskrim Polri. Diketahui bahwa dugaan tindak pidana ilegal akses pertama kali dilakukan pada tanggal 8 Mei 2019. Pelaku peretas diduga memerhatikan data-data yang disimpan di email korban," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Rabu (7/8).

Dedi menerangkan, sindikat ini kemudian memalsukan form pembayaran ke PPF Banka yang berada di Ceko, sehingga berhasil menginstruksikan bank tersebut untuk mentransfer uang sejumlah 6,9 juta euro dan ditransfer ke rekening bank di Indonesia atas nama perusahaan tersebut.

Selain Nurul, tersangka lain warga negara Indonesia berinisial KS, HB, IM, DN, dan BY sudah ditangkap. Polisi juga menyita barang bukti berupa mobil dan uang dengan nilai total kurang-lebih Rp 5,6 miliar.

Polisi menjerat para tersangka dengan Pasal 82; dan/atau Pasal 85 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana dan/atau Pasal 46 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) juncto Pasal 30 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dan/atau Pasal 51 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 35.

"Dan/atau Pasal 36 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 3, Pasal 5, dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan/atau Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 263 KUHP," tutup Dedi. (abw/rvk)