detikNews
Selasa 20 Agustus 2019, 16:10 WIB

Laporan Dari New Delhi

Upaya Menjadikan Minyak Sawit Indonesia Menang di Pasar India

Haris Fadhil - detikNews
Upaya Menjadikan Minyak Sawit Indonesia Menang di Pasar India Foto: Peneliti komoditas sawit Agriwatch Dipanker Gyan (Haris/detikcom)
New Delhi - India merupakan negara pengimpor crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah terbesar di dunia. Salah satu negara pengekspor minyak kelapa sawit terbesar untuk India adalah Indonesia, yang kini terus bersaing ketat dengan Malaysia.

"Kami adalah pengonsumsi terbesar minyak kelapa sawit dan konsumsi itu terus naik," kata peneliti komoditas sawit dari Agriwatch, Dipanker Gyan, di KBRI New Delhi, India, Selasa (20/8/2019).

Dipanker kemudian memaparkan data impor minyak kelapa sawit dari Indonesia. Ia juga membandingkan angka impor sawit India yang berasal dari Indonesia dengan Malaysia.


Menurut data yang disebut Dipanker berasal dari Kementerian Perdagangan India, produk kelapa sawit berupa CPO dan RBD (refined, bleached, and deodorized) palm olein asal Indonesia menjadi yang terbanyak diimpor India pada 2018. Namun pada Januari-Juni 2019, jumlah impor India terhadap produk kelapa sawit, khususnya RBD, lebih banyak berasal dari Malaysia.

Pada 2018 misalnya, India mengimpor 4 juta ton CPO dari Indonesia dan 1,91 juta ton RBD palm olein. Sementara, pada periode Januari-Juni 2019, impor India terhadap CPO dari Indonesia berjumlah 1,93 juta ton dan 0,19 juta ton untuk RBD palm olein.

Sementara itu, jumlah impor India untuk produk CPO dari Malaysia pada 2018 berjumlah 1,84 juta ton dan 0,24 juta ton untuk produk RBD palm olein. Jumlah impor India terhadap produk RBD palm olein Malaysia naik pada Januari-Juni 2019 menjadi 1,30 juta ton. Impor India terhadap produk CPO Malaysia pada Januari-Juni 2019 berjumlah 0,85 juta ton atau masih kalah dibanding Indonesia.


Dipanker mengatakan sebenarnya harga minyak kelapa sawit dari Indonesia lebih murah. Namun untuk produk RBD palm olein, India mengenakan bea yang lebih rendah bagi Malaysia, yakni 45 persen dan bea 50 persen untuk Indonesia.

"Harga CPO Indonesia lebih murah USD 10 daripada Malaysia. Untuk RBD palm olein juga," jelas Dipanker.

Duta Besar RI untuk India, Sidharto Suryodipuro, mengatakan bea CPO Indonesia yang masih lebih tinggi dibanding Malaysia menjadi tantangan tersendiri bagi produk sawit Indonesia agar memenangkan persaingan di pasar India. Dia mengatakan perbedaan tarif tersebut merugikan Indonesia.

"Pada saat ini untuk palm olein, Malaysia itu 45 persen, kita 50 persen. Malaysia karena ada bilateral FTA (free trade agreement), sementara kita hanya ada yang ASEAN-India. Ini sangat tidak menguntungkan," kata Sidharto.


Pemerintah juga sudah melakukan upaya agar perbedaan bea terhadap produk kelapa sawit dari Malaysia dan Indonesia bisa diselesaikan. Pihak KBRI, kata Sidharto, juga terus melakukan upaya komunikasi dengan pihak Kementerian Perdagangan India agar penyesuaian tarif segera diberlakukan.

"Di antara kedua menteri pedagangan sudah ada pembahasan di mana kita bisa saling memfasilitasi. Kemarin saya bertemu secretary of commerce, pejabat tertinggi di bawah menteri di kementerian perdagangan sini untuk meminta mereka mempercepat proses penyesuaian tarif tersebut. Tarif adalah satu persoalan yang harus segera kita selesaikan," tuturnya.

Sidharto mengatakan pihaknya turut memantau harga antara sawit dengan minyak nabati lainnya. Dia menyatakan harus ada fair trade antara produk minyak kelapa sawit dengan minyak nabati lain.

"Ada tarif misalnya dengan Malaysia sesama sawit. Ada tarif dengan minyak nabati lain, misalnya minyak kedelai. Ini kita harus memastikan ada fair trade. Tapi paling tidak kita melihat karena kita memantau harga eceran di 4 kota utama India kita melihat sawit untungnya masih kompetitif," ujar Sidharto.


Selain soal tarif, dia juga menyebut Indonesia dan India harus mulai bekerja sama terkait hak paten produk turunan sawit. Alasannya, saat ini hak paten produk turunan dari minyak kelapa sawit masih dipegang korporasi di negara-negara lain.

"India adalah konsumen terbesar sawit, Indonesia adalah produsen terbesar sawit tetapi hak paten dari produk turunan itu 90 persen lebih masih dipegang oleh multinational coorporation negara-negara lain. Ini kan kita harus sebagai manifestasi hubungan makin dekat meningkatkan penelitian dalam segi produk yang sesuai kebutuhan kita," kata dia.




Tonton Video Indonesia Sepakat Lawan Diskriminasi Sawit Uni Eropa:

[Gambas:Video 20detik]


(haf/tsa)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com