Soal Insiden di Asrama Papua, PGI Minta Semua Pihak Utamakan Musyawarah

Soal Insiden di Asrama Papua, PGI Minta Semua Pihak Utamakan Musyawarah

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Senin, 19 Agu 2019 13:21 WIB
Sekum PGI Pendeta Gomar Gultom (Ari Saputra/detikcom)
Sekum PGI Pendeta Gomar Gultom (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) prihatin atas bentrokan dan kekerasan yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. PGI meminta semua pihak tidak main hakim sendiri.

"Saya mengajak semua pihak untuk mengedepankan dialog dalam menyelesaikan berbagai masalah. Tindakan main hakim sendiri dengan tindak kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah," kata Sekretaris Umum PGI Pendeta Gomar Gultom dalam keterangannya, Senin (19/8/2019).


Gomar mengimbau aparat agar mengusut tuntas kasus ini dengan memperhatikan UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik. Gomar menilai kasus ini justru makin memperkeruh masalah Papua yang menurutnya perlu pendekatan kultural dalam penyelesaiannya.

"Sejatinya, penyelesaian masalah Papua memerlukan pendekatan kultural bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh segenap lapisan masyarakat, terutama masyarakat di luar Papua. Hanya dengan demikian masyarakat Papua dapat merasakan bahwa mereka adalah bagian integral dari masyarakat dan bangsa Indonesia," ujar Gomar.


Menurut Gomar, stigma dan diskriminasi terhadap Papua justru akan menimbulkan kebencian. Hal itu, kata Gomar, mencederai kemanusiaan.

"Sebaliknya, segala bentuk stigma, diskriminasi, dan kekerasan terhadap masyarakat Papua hanya akan melahirkan lingkaran kekerasan dan kebencian, dan sudah pasti mencederai kemanusiaan," tuturnya.


Sebelumnya, polisi sempat menangkap 43 mahasiswa untuk dimintai keterangan terkait dugaan pembuangan bendera Merah Putih, Sabtu (17/8). Mereka dijemput di Asrama Mahasiswa Papua untuk dibawa ke Mapolrestabes Surabaya. Namun kemudian 43 mahasiswa tersebut akhirnya dipulangkan ke asrama.

Penjemputan ini sebelumnya juga sempat berlangsung alot. Mahasiswa awalnya tidak mau ikut polisi. Ketegangan sempat terjadi hingga polisi menembakkan gas air mata. Setelah itu, polisi menerobos masuk asrama, melakukan negosiasi, dan membawa 43 mahasiswa ke dalam 3 truk (azr/jbr)