Ricuh Mahasiswa Papua di Surabaya, Gubernur Lukas Minta Polisi Profesional

Ricuh Mahasiswa Papua di Surabaya, Gubernur Lukas Minta Polisi Profesional

Wilpret Siagian - detikNews
Minggu, 18 Agu 2019 18:27 WIB
Foto: Gubernur Papua Lukas Enembe (Wilpret-detik)
Foto: Gubernur Papua Lukas Enembe (Wilpret-detik)
Jayapura - Gubernur Papua, Lukas Enembe, meminta aparat kepolisian profesional dalam menangani kasus ricuh mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur. Gubernur meminta agar penegakan hukum terhadap warganya yang sedang kuliah di Pulau Jawa tidak diskriminasi.

"Selaku Gubernur Papua saya perlu menyampaikan empati dan prihatin atas insiden yang terjadi dl Kota Surabaya, Kota Semarang dan Kota Malang yang berakibat adanya penangkapan dan pengosongan Asrama Mahasiswa Papua dl Kota Surabaya oleh aparat keamanan," ujarnya kepada wartawan saat jumpa pers di Gedung Negara Jayapura, Minggu (18/8/2019).

Lukas mengatakan bahwa pemerintah provinsl Papua menghargai upaya hukum yang dlIakukan oleh aparat keamanan sepanjang dilakukan secara proposional, profesional dan berkeadilan.



"Aparat keamanan diharapkan untuk tidak melakukan pembiaran atas tindakan persekusi atau main hakim sendiri oIeh kelompok atau individu, yang dapat melukai hati masyarakat Papua. Hindari adanya tindakan-tindakan menganggu represif yang dapat menimbulkan korban iiwa, kegaduhan politik, dan rasa nasionalisme sesama anak bangsa," katanya.

Dia juga menegaskan Provinsi Papua merupakan Wilayah Republlk Indonesla yang dikenal sebagai Miniatur Indonesia sesungguhnya yang Berbhineka Tunggal lka.

"Penduduk provinsi Papua beragam, multietnis, multi agama, multi budaya, yang hidup secara berdamplngan. Masyarakat asll Papua menyambut baik dan memperlakukan masyarakat non Papua secara terhormat dan selajar. Oleh karenanya kami berharap kehadiran masyarakat Papua di berbagal wllayah Provinsi dl Indonesia harus juga dlperlakukan sama," katanya.

Ricuh di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kalasan Surabaya, berlangsung pada Sabtu (17/8), sore. Polisi berencana menjemput mahasiswa asal Papua di asrama terkait insiden pembuangan bendera merah putih. Namun, sudah 1 jam ditunggu, mahasiswa itu tak mau keluar.




Karena peringatannya tak diindahkan, polisi akhirnya memilih untuk melakukan tindakan tegas dengan menembakkan gas air mata. Terdengar ada hampir 20-an tembakan yang menggema.

Polisi juga menggeledah asrama dan menemukan sebuah tas dengan desain logo bintang kejora. Dalam penggeledahan ini, polisi juga menemukan alat kontrasepsi, busur, dan anak panah. 43 orang sempat diamankan dan sudah dipulangkan pada Minggu sore. (rvk/rvk)