detikNews
Minggu 18 Agustus 2019, 15:05 WIB

Video HUT RI 'Lelang' Bukan dari Bekraf, Triawan Minta Maaf Sempat Unggah

Isal Mawardi - detikNews
Video HUT RI Lelang Bukan dari Bekraf, Triawan Minta Maaf Sempat Unggah Triawan Munaf (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf memastikan video HUT ke-74 RI versi open bidding (lelang) yang memicu kontroversi bukan buatan Bekraf. Dia juga meminta maaf lantaran sempat mengunggah video tersebut.

"Terima kasih atas kritik dan masukannya. Perlu saya klarifikasi bahwa video itu bukan buatan atau dibiayai oleh @bekrafID, saya memforward video kreasi @wahyukentjana Mohon maaf sedalam-dalamnya apabila dirasa konten video forward saya tsb tidak akurat," tulis Triawan di Twitter.

Saat ditemui di Istora Senayan, Minggu (18/8/2019), Triawan menjelaskan bahwa dia diminta oleh teman untuk mengunggah video tersebut. Video itu sendiri menyinggung PKI di 1965, peristiwa tahun 1984 di Tanjung Priok, kerusuhan 1998, hingga kericuhan seusai Pemilu 2019.


Secara pribadi, Triawan merasa pesan di video itu bagus, yaitu ada potensi perpecahan di setiap event. Triawan menilai video itu tidak bermaksud untuk menyalahkan siapa-siapa. Justru masyarakat diajak untuk hidup damai dan tetap bersatu.

"Di tahun '98 itu, saya juga bagian dari '98. Masak, saya mau menyalahkan reformer, kan nggak mungkin. Yang salah adalah orang-orang yang belum ketahuan siapa sekarang ini, katanya melakukan banyak kekerasan, perkosaan, dan lain-lain, itu yang salah, tapi kan tidak diuraikan di video itu," kata Triawan.

Dia mengakui video HUT RI versi lelang itu memang memunculkan bermacam-macam interpretasi. Oleh sebab itu, Triawan minta maaf sempat mengunggahnya.

"Memang berpotensi salah interpretasi, saya mohon maaf sudah meng-upload sesuatu yang bisa diinterpretasikan macam-macam, tapi tujuannya bagus kok," ujarnya.


Berikut ini isi video yang menimbulkan pro dan kontra di media sosial tersebut:

Silakan Bapak Ibu, tawaran perpecahan dimulai di atas 1945.
Lelang dimulai. Oke, penawar pertama.
1948 kita punya PKI. Ada lagi? Ada lagi?
Yak makin naik 1950 ada Republik Maluku Selatan. Ada yang lebih tinggi?
Yak 1953 diajukan DII/TII.
Oke 1957 ada Permesta.
1958. 1958. Ada yang berani di 1958? Yak 1958 oleh PRRI.
Oke, PKI kembali di 1965. Ada lagi?
Yak Gerakan Aceh Merdeka berani di 1976. Ada yang lebih dari Gerakan Aceh Merdeka?
1982. Yak, Organisasi Papua Merdeka menawar pemberontakan di 1982. Ada lagi yang bisa lebih?
Oke. 1984 oleh kerusuhan Tanjung Priok.
Yak di sana 1998 kerusuhan Mei.
Yak menembus angka 2000. Ada 2019 kericuhan Pemilu.
Ada lagi? Ada lagi?
Dan hingga kini masih banyak yang berharap bisa memecah negeri ini. Tapi semoga harga kita untuk Indonesia yang satu takkan pernah bisa ditawar.



Unik! Semua Petugas Upacara HUT RI di Yogya Bernama Agus:

[Gambas:Video 20detik]


(imk/dhn)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com