Jangan Kaitkan Pesantren dengan Terorisme
Minggu, 23 Okt 2005 16:54 WIB
Jakarta - Seringkali Islam selalu menjadi korban bagi ketidakadilan segelintir perbuatan manusia. Sejumlah orang menyebut Jamaah Islamiyah, dan kini pesantren menjadi korban. Mengapa tidak disebut saja Amrozi dkk, mengapa tidak disebut saja suatu pesantren disusupi ajaran terorisme. Radikalisme memang selalu ada. Untuk itu jangan membuat kesalahan segelintir orang menjadi kesalahan seolah-olah terjadi kesalahan dalam pengajaran di pesantren."Jangan sebut kata pesantren, karena pesantrennya yang terkena imbas. Bisa saja ajaran terorisme yang menyusupi suatu pesantren," kata cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat ketika dihubungi detikcom, Minggu (23/10/2005).Dia melihat, pesantren merupakan sarana pendidikan yang menjadikan seseorang mempunyai akhlak baik. Namun dia juga mengakui kalau memang ada pesantren yang cenderung melahirkan aliran yang keras dan ekstrim. "Saya sebagai orang pesantren sangat tersinggung kalau memang terorisme menyusup ke suatu pesantren. Kalau soal radikalisme, dimana saja juga ada. Maling pun di kepolisian juga ada," tandas direktur pascasarjana UIN Jakarta ini.Untuk itu, aparat keamanan harus dituntut bertanggung jawab terhadap keamanan. Siapa pun yang terlibat terorisme harus segera diproses sesuai hukum. Namun, jangan nama Islam dibawa-bawa soal terkait terorisme. "Islam bukanlah agama yang mengajarkan kekerasan, justru perdamaian," tegasnya.
(atq/)











































