Depag Belum Respons Perintah JK Awasi Beberapa Pesantren

Depag Belum Respons Perintah JK Awasi Beberapa Pesantren

- detikNews
Minggu, 23 Okt 2005 12:11 WIB
Jakarta - Departemen Agama (Depag) belum merespons pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla soal beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) yang diawasi karena mencuci otak dan mendorong orang melakukan bom bunuh diri."Saya belum tahu, tapi bisa saja perintah itu tidak ke saya, bisa juga ke Litbang," kata Direktur Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren Depag Amin Haedari ketika dihubungi detikcom, Minggu (23/10/2005).Sedangkan Kepala Puslitbang dan Diklat Keagamaan Depag Atho' Mudzhar, ketika dihubungi, mengaku telah melakukan penelitian terhadap dua pesantren yakni Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Surakarta dan Al Islam Tenggulun, Lamongan. Namun penelitian dilakukan pada tahun 2003 dan dipublikasikan pada tahun 2004."Kita sudah melakukan penelitian terhadap dua pesantren itu, termasuk sistem pendidikan, paham keagamaan dan jaringan alumni," katanya.Atho menjelaskan, dua pesantren tersebut mengembangkan pengajaran salafi atau tradisional. Salafi adalah pemurnian ajaran agama Islam dengan menerima dan mengamalkan syariat Islam secara utuh. Aliran ini cenderung radikal dalam menegakkan pemahamannya."Tapi saya tidak tahu dengan pernyataan Wapres Jusuf Kalla bahwa satu atau dua pesantren mencuci otak dan mendorong orang melakukan bom bunuh diri," jelasnya.Memang, kepolisian hingga media massa mengaitkan Pesantren Al Mukmin Ngruki dengan terorisme. Namun sejumlah kalangan juga membantah pernyataan itu. Tidak ada yang aneh dari yang diajarkan pondok pesantren asuhan Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Abu Bakar Ba`asyir itu.Sebelumnya, Amin Haedari mengatakan ajaran terorisme bukanlah berasal dari pesantren. Pengaruh di luar pesantrenlah yang membuat seorang santri menjadi teroris. Haedari menyatakan, pesantren pada dasarnya tidak mengajarkan ajaran yang menyimpang dan mengarah pada terorisme. Kalaupun ada lulusan pesantren yang menjadi teroris, hal itu hanya faktor kebetulan saja, bahwa ia pernah belajar di sebuah pesantren. (atq/)


Berita Terkait