Amien Rais: SBY Belum Berhasil
Sabtu, 22 Okt 2005 13:19 WIB
Yogyakarta - Mantan Ketua MPR Amien Rais menilai satu tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum menunjukkan hasil yang positif. Pada tahun pertama pemerintahan, janji-janji yang diucapkan saat kampanye tidak terbukti. Dengan kata lain, setahun SBY bekerja hasilnya belum cukup signifikan atau belum berhasil."Janji-janji saat kampanye tidak terbukti. Jadi kata-kata 'bersama kita bisa' itu memang belum bisa diisi dengan hal-hal yang positif. Misalnya bisa lebih makmur, bisa lebih sejahtera, bisa lebih adil atau bisa lebih murah," kata Amien Rais kepada wartawan di rumahnya Pandeansari Condongcatur Depok Sleman, Sabtu, (22/10/2005). Namun, kata Amien, slogan 'bersama kita bisa' itu memang tidak jelas. "Kita bisa apa. Menang, bisa menambah pengangguran, bisa meningkatkan kualitas korupsi, meningkatkan harga BBM dan bisa membawa kehidupan rakyat ke arah lebih sengsara," kata dia. Agar objektif, menurut Amien, perlu membandingkan sebelum dan sesudah SBY-JK menjadi pemimpin nasional. Kalau dibuat perbandingan sebelum dan sesudahnya, maka perubahan positif belum tampak secara jelas. Misalnya dari indikator ekonomi, nilai tukar rupiah semakin terpuruk selama pemerintahan SBY. Soal pengangguran juga bukannya mengecil, tapi justru semakin membengkak. Demikian pula dengan indikator sosial, rakyat yang jatuh miskin juga lebih banyak lagi terutama setelah kenaikan BBM. "Jadi, saya melihat popularitas SBY dari waktu ke waktu juga turun secara sistematis. Prestasi SBY memang belum bisa dikatakan baik atau membaik. Ini drama demokrasi dan reformasi di negeri kita. Setahun SBY bekerja, hasilnya memang belum cukup signifikan untuk diberi penilaian atau belum berhasil," tegas mantan Ketua Umum PAN itu.Apa penyebab belum berhasilnya pemerintahan SBY? Menurut Amien, penyebabnya ada tiga hal. Pertama, kekompakan presiden dan wakil presiden tidak nampak. Namun yang tampak adalah justru terjadi kompetisi antara kedua tokoh itu. Padahal dalam UUD, pemegang final keputusan itu adalah presiden. "Wakil presiden itu hanya mengamini, mengiyakan seperti halnya para menteri. Tidak boleh bersaing dengan presiden. Tapi sekarang ini ada dualisme kepemimpinan dengan dua gaya. Yang satu pukul dulu urusan belakang dan yang satunya lagi super hati-hati sehingga terkesan agak lambat," katanya.Amien mengatakan hampir semua pengamat sepakat mengatakan ada persaingan di antara kedua tokoh itu. Resepnya mudah untuk mengatasinya. "SBY harus tampil lebih tegas lagi kalau perlu mengatakan setegas-tegasnya bila wapres adalah wapres, tidak boleh membuat keputusan sendiri atau mengambil kebijakan tanpa dikonsultasikan presiden," katanya.Penyebab yang kedua, kata Amien, masalah pembagian kerja seperti yang saat ini keliru secara fundamental, masalah politik, pertahanan, keamanan, diplomasi itu dipegang presiden. Sedangkan urusan ekonomi dan industri dipegang wakil presiden. "Ini tidak boleh terjadi. Seluruh masalah nasional semua tanggung jawab presiden, karena kalau ada pembagian kerja seperti itu saya khawatir akan terjadi saling gusur-menggusur," katanya.Menurut mantan ketua umum PP Muhammadiyah itu, penyebab ketiga adalah berbagai kebijakan yang diambil SBY belum betul-betul untuk kepentingan rakyat. Contohnya kenaikan harga BBM yang sangat tinggi sehingga, sangat memukul rakyat. Kenaikan itu seolah-oleh tidak ada welas asih kepada rakyat. "Ini blunder," demikian Amien.
(asy/)











































