RS Polri: Aiptu Erwin yang Terbakar Saat Kawal Demo Alami Luka Bakar 64%

Rolando F Sihombing - detikNews
Kamis, 15 Agu 2019 20:42 WIB
Kepala Rumah Sakit Polri Brigjen Musyafak (Alfons/detikcom)
Kepala Rumah Sakit Polri Brigjen Musyafak (Alfons/detikcom)
Jakarta - RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, telah memeriksa kondisi Aiptu Erwin Yudha, yang terbakar saat mengawal demo di Cianjur, Jawa Barat. Aiptu Erwin mengalami luka bakar 64 persen.

Aiptu Erwin tiba di RS Polri Kramat Jati pada pukul 17.28 WIB, Kamis (15/8/2019). Kondisi Aiptu Erwin pun langsung diperiksa.

"Sekarang baru koreksi cairan (cairan tubuh). Dari pemeriksaan tim dokter bedah plastik, yaitu disampaikan bahwa Pak Erwin ini luka bakar 64%," kata Kepala RS Polri Kramat Jati Brigjen Musyafak di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.


Musyafak menyebut Aiptu Erwin menderita luka bakar hampir di seluruh tubuh, dari tangan hingga kaki.

"Hampir semuanya (badan), jadi muka, kemudian kedua tangan, kedua kaki dari ujung kaki sampai paha, dan sebagian dada. Jadi dinilai ada 64%," ujarnya.

Selain itu, Aiptu Erwin mengalami trauma inhalasi karena menghirup udara panas api, sehingga bisa saja terjadi pada mukosa pernapasan.

"Ini yang perlu kita antisipasi. Jadi kalau di kulit kan kelihatan," ujarnya.


Musyafak memastikan tim dokter akan terus memantau kondisi Erwin. Erwin juga membutuhkan cairan tubuh.

"Sekarang baru koreksi cairan dan langsung dipasang PPC supaya koreksi cairan ini bisa terukur. Kemudian rencananya per tiga jam ke depan ini, cairan harus bisa masuk 5 liter, 5.000 cc. Kemudian dipantau 8 jam lagi, setelah 8 jam kemudian akan dilakukan tindakan operasi," ujarnya.

Musyafak lalu menjelaskan soal cairan yang dimaksud. Dia mengatakan cairan itu harus dikoreksi agar tidak berdampak pada organ vital.

"Dengan adanya kondisi luka bakar ini kan terjadi pelebaran pembuluh di kulit. Sehingga cairan-cairan keluar, penguapan, kapiler terbuka, sehingga keluar cairan yang ada di pembuluh darah. Makanya harus dikoreksi, kalau tidak nanti akan berdampak pada organ vital, seperti ginjal, itu yang kita antisipasi. Jadi tidak hanya katakanlah terjadinya infeksi sekunder dari kulit terbakar dan sebagainya," ujarnya. (idh/zak)