detikNews
Kamis 15 Agustus 2019, 15:16 WIB

Bea-Cukai Jelaskan Penangkapan Selebgram Australia Tori Hunter di Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Bea-Cukai Jelaskan Penangkapan Selebgram Australia Tori Hunter di Bali Tori Ann Lyla Hunter (Foto: Dok. Instagram)
Denpasar - Model asal Adelaide, Australia, Tori Ann Lyla Hunter, membuat heboh lantaran mengaku diperas oleh polisi dan pengacara di Bali. Selebgram itu sempat ditahan selama 4 hari terkait kepemilikan obat terlarang di Indonesia. Bea-Cukai Bandara Ngurah Rai ikut angkat bicara.

"Saudari Tori Hunter tiba dan melaporkan obat-obatan yang dibawanya pada Customs Declaration. Dari hasil pemeriksaan yang bersangkutan kedapatan membawa 100 butir tablet dalam botol plastik putih diduga merupakan dexamphetamine dan 47 tablet dalam botol plastik putih bertuliskan 'Antenex 5'," kata Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Ngurah Rai Teddy Triatmojo saat dihubungi via telepon, Kamis (15/8/2019).

"Atas barang-barang tersebut dilakukan uji laboratoris pada Lab Bea-Cukai Ngurah Rai dan sampel barang yang diuji merupakan produk farmasi mengandung dexamphetamine dan produk farmasi mengandung diazepam," imbuhnya.




Teddy menjelaskan dexamphetamine merupakan narkotika golongan I berdasarkan UU narkotika sehingga importasinya hanya boleh dilakukan pengecer farmasi besar. Kemudian diazepam merupakan psikotropika golongan IV yang peredarannya dikontrol dan wajib menyertakan resep dokter.

"Pada saat kita periksa oleh Bea-Cukai itu jumlah yang dia bawa lebih dari yang tertera di resep. Itu juga kenapa kita tahan dia untuk diperiksa. Nah proses pemeriksaan di Bea-Cukai kan tidak putus. Untuk pidananya kita teruskan ke kepolisian, yaitu di Ditresnarkoba Polda Bali," jelasnya.

Teddy mengatakan Tori Hunter tiba di Bali pada Selasa (6/8). Pada hari yang sama, Bea-Cukai juga langsung melakukan pemeriksaan laboratorium dan menyerahkannya ke polisi.

"Dari kita sih pemeriksaan berlangsung cepat. Datang tanggal 6 (Agustus) langsung kita cek laboratorium. Jadi di hari yang sama kita serahterimakan ke polda, dan tidak ada praktik permintaan (uang) itu tidak ada ya," tukasnya.

Teddy juga menyinggung pernyataan Tori Hunter yang merasa ditargetkan karena berprofesi sebagai selebgram. Teddy memastikan kinerja pihaknya profesional.

"Salah satu yang diklarifikasi dia bilang saya ditarget karena saya selebgram, that's not what we works sih, kita tidak melihat itu tapi kita melihat barang bawaannya. Mau pekerjaannya apa pun kalau barang bawaannya patut diperiksa dan harus dikendalikan Bea-Cukai ya harus kita kendalikan," tegasnya.




Hingga saat ini, pihaknya masih berusaha meminta klarifikasi dari Tori. Dia mengaku sudah mengontak media-media Australia untuk mencoba menghubungi Tori yang sudah kembali ke negaranya.

"Saya sih masih mencari kemungkinan untuk reach (menghubungi) yang bersangkutan melalui socmed. Tapi kami sudah bertukar informasi dengan media di Aussie, sudah ngobrol sama kita. Masih diupayakan berhubungan langsung dengan yang bersangkutan," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, Tori Hunter mengaku ditahan selama 4 hari di Bali dan diperas hampir senilai AUD 40 ribu atau setara dengan Rp 400 juta. Uang itu dia klaim sebagai uang yang dia bayarkan untuk kebebasannya dari penjara di Pulau Dewata.

Dia lalu melakukan crowdfunding atau penggalangan dana online di situs GoFundMe untuk membayar kembali AUD 39.600 atau setara dengan Rp 396 juta yang dia klaim di medsos.

"Saya ditahan setelah melalui Bea-Cukai karena membawa obat resep saya sendiri ke negara itu, yang saya bawa dalam kotak berlabel farmasi bersama dengan sertifikat dari dokter saya," tulisnya di halaman penggalangan dana tersebut.

"Saya secara pribadi menjadi sasaran karena status media sosial saya sebagai model," tuturnya.




Baik polisi maupun pengacara sudah membantah soal pemerasan ini.

Jupiter Lalwani dari firma hukum Legal Nexus di Bali, yang menangani kasus Hunter, membantah klaim pemerasan yang disampaikan model itu di posting-an Instagram-nya.

Pengacara Bali ini mengaku telah menjelaskan semua rincian kepada Hunter sebagai kliennya, termasuk biaya. Dari penjelasan itu, Hunter disebut sepakat untuk bekerja sama.

"Dia oke, setuju, tanda tangan kuasa dan kita issue invoice, jelas itu. Jumlahnya 25.000 dolar," sebut Jupiter, berbeda dari nominal 39.600 dolar (atau setara Rp 396 juta) yang diklaim Hunter di medsos-nya sebagai pemerasan.

Polda juga menepis tudingan Tori Hunter. Kabid Humas Polda Bali Kombes Hengky Widjaja memastikan penyidik bekerja profesional.

"Info seperti itu tidak benar. Penyidik Polri bekerja dengan profesional. Jika kasusnya terbukti tentu akan diproses hukum dan jika tidak terbukti pasti akan dibebaskan," kata Kombespol Hengky kepada jurnalis ABC Indonesia Nurina Savitri.
(ams/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com