Dengar Cerita Tradisi Kawin Culik Orang Sasak, Mufidah Kalla: Unik Sekali

Dengar Cerita Tradisi Kawin Culik Orang Sasak, Mufidah Kalla: Unik Sekali

Eva Safitri - detikNews
Rabu, 14 Agu 2019 18:41 WIB
Mufidah bersama cucunya (Foto: Eva Safitri/detikcom)
Mufidah bersama cucunya (Foto: Eva Safitri/detikcom)
Lombok - Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mufidah Jusuf Kalla berkunjung ke Dusun Sasak Sade, Lombok, NTB. Mufidah menyebut tradisi orang sasak unik, salah satunya tradisi kawin culik.

Dusun Sasak Sade ini terletak di Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini merupakan salah satu desa yang masih asli akan adat dan tradisi suku sasak. Rumah-rumah di dusun ini terbuat dari kayu beratap daun jerami.

Setibanya di lokasi, Rabu (14/8/2019) Mufidah langsung disambut Tari Peresean yang dimainkan dua laki-laki. Keduanya berlaga seperti adu silat. Tari ini disebut memang ditampilkan untuk menghormati tamu sekaligus memperkenalkan seni tari khas suku sasak.

"Ini sebagai penghormatan bagi pengunjung yang datang," ujar pemandu adat setempat Talep, di lokasi, Rabu (14/8/2019).

Mufidah datang bersama ketiga cucunya beserta para pengurus Dekranas. Mufidah kemudian melanjutkan kunjungannya dengan berkeliling dusun.



Dia pun mendapat cerita dari Talep seputar kegiatan penduduk dusun. Salah satunya tentang kegiatan orang sasak sehari-hari.

"Semua laki-laki di sini bekerja sebagai petani, sedangkan perempuan menenun di rumah, tenunnya itu lalu juga kita jual baik di sini (rumah) ataupun di pasar," kata Talep.

Mufidah dan ketiga cucunya terlihat membeli dan langsung mencoba pakaian adat hasil tenun masyarakat. Dia lalu berswafoto untuk mengabadikan momen tersebut.


Mufidah KallaMufidah Kalla (Foto: Eva Safitri/detikcom)


Selanjutnya, Talep juga memperkenalkan arti rumah adat setempat yang disebut dengan Balitani. Rumah ini terlihat rendah dari depan, namun sebenarnya ruang utama dari rumah ini berada di atas.

"Bagian pintu depan dibuat rendah tujuannya supaya kita menghormati pemilik rumah jadi kita masuknya menunduk, itu tandanya menghormati," ujar Talep.

Ada yang unik dari rumah ini, lantainya yang terbuat dari tanah liat, ternyata dibersihkan dengan kotoran kerbau. Itu merupakan salah satu tradisi dari leluhur mereka dan dipercaya untuk menolak bala.

"Terus lantai rumah pondasinya bukan semen jadi ini lantai tanah liat yang dicampur pake padi kering dan dibersihkan pake kotoran kerbau, supaya lantainya merekat dan makin rapih," ucap Talep.



"Terus juga karena kami di sini tradisi budaya kami hindu, tapi kalau agama Islam. Nah, ketika kami akan melakukan upacara suci itu, maka sampai lima hari sebelum dipakai harus dibersihkan dulu pake kotoran kerbau dan itu kepercayaan kami di sini bisa sebagai penolak bala dan peninggalan tradisi kami," lanjut Talep.

Terakhir, Talep menjelaskan kalau tak ada tunangan atau lamaran di dusun ini. Jika seorang laki-laki tertarik dan hendak menikahi perempuan, lelaki itu harus menculik terlebih dahulu dengan dibawa kabur, baru meminta restu kepada orang tua.

"Ada lagi yang aneh, di sini tidak ada yang namanya lamaran atau tunangan. Laki-laki itu harus membawa lari dulu si perempuan, kalau bahasa umumnya itu kawin lari ya, tapi di sini namanya kawin culik. Setelah diculik, baru si lelaki meminta restu kepada orang tua si perempuan," tutur Talep.

Mufidah pun terlihat mendengar semua penjelasan Talep dengan serius. Mufidah mengatakan tradisi orang sasak, terutama kawin culik adalah hal yang unik.

"Unik sekali itu," kata Mufidah. (eva/haf)