detikNews
Rabu 14 Agustus 2019, 14:47 WIB

Laporan Dari Mekah

Alhamdulilah... Rangkaian Puncak Haji Selesai

Ardhi Suryadhi - detikNews
Alhamdulilah... Rangkaian Puncak Haji Selesai Foto: Haji 2019 (Ardhi Suryadhi/detikcom)
FOKUS BERITA: Kabar Haji 2019
Mekah - Rangkaian puncak haji 1440 H di Tanah Suci akhirnya telah dirampungkan oleh jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia.

Wukuf di padang Arafah menjadi awal perjalanan puncak haji. Tahun ini ada yang spesial saat jemaah wukuf, yakni turunnya hujan tepat pada tanggal 9 Zulhijah.

Hujan yang turun tentu tak disangka-sangka. Sebab ketika dua hari sebelumnya, detikcom sempat melakukan survei ke tenda pemondokan di Arafah dan disambut dengan cuaca panas terik, tembus 43 derajat celcius!


Awan mendung dan suara gemuruh sudah terdengar di atas langit Arafah pada hari Sabtu, 9 Zulhijah 1440 H, sejak pukul 14.45 waktu Arab Saudi. Dan bisa ditebak, tak lama kemudian gemericik air turun dengan intensitas ringan.

Pun demikian, hujan tak datang sendiri, melainkan juga kibasan angin yang cukup kencang. Sejumlah ornamen di tenda-tenda Arafah sampai harus dipindahkan. Namun kondisi ini membuat suasana padang Arafah yang sebelumnya panas terik menjadi lebih sejuk.

Tak ada lari tunggang langgang dari jemaah untuk menghindari hujan. Bahkan, sejumlah jemaah malah sengaja keluar tenda sembari memanjatkan doa. Meskipun tak memakai payung.

"Selama saya mengurus haji selama 30 tahun, baru tahun ini hujan turun tepat waktu wukuf di Arafah. Jadi haji tahun ini terasa begitu spesial," ujar Muhammad Rocky Masyhur, direktur biro perjalanan Maktour.

Alhamdulilah... Rangkaian Puncak Haji SelesaiFoto: Arafah (Ardhi Suryadhi/detikcom)

Prosesi puncak haji kemudian berlanjut dengan bermalam di Muzdalifah. Di sini jemaah mempersiapkan diri untuk melempar jamrah dengan memanfaatkan waktu untuk berdoa dan berzikir. Termasuk mencari batu yang akan digunakan untuk melontar jamrah.

Setelah itu, konsentrasi jemaah haji terpecah. Ada yang bergerak langsung ke Mina, ada pula yang memilih kembali ke Masjidil Haram untuk menyelesaikan rukun haji yakni menjalankan tawaf ifadah, sa'i dan tahalul (memotong rambut).

Nah, lantaran ada perpecahan konsentrasi tersebut, lalu lintas jemaah di Masjidil Haram terasa tak terlalu padat ketika melaksanakan tawaf ifadah. Terlebih prosesi tawaf dilakukan saat tengah malam.

Kemudian berlanjut dengan sa'i dari bukit Safa ke Marwah selama 7 kali putaran dan ditutup dengan tahalul. Kira-kira jika tawaf ifadah dimulai usai tengah malam maka prosesi ini selesai menjelang waktu subuh.


Jadi ketika selesai, para jemaah memiliki waktu untuk melanjutkan ke salat subuh di Masjidil Haram dengan masih mengenakan pakaian ihram.

Dan karena itu sudah masuk tanggal 10 Zulhijah 1440 H, maka pada pukul 06.00 waktu Arab Saudi, para jemaah di Masjidil Haram langsung menggelar salat sunah Idul Adha.

Mereka yang menuntaskan rukun haji biasanya merupakan rombongan haji khusus, sedangkan rute bagi jemaah haji reguler adalah Arafah-Muzdalifah-Mina-Melontar Jamrah-Tawaf-Sa'i.

"Kami sengaja memilih menyelesaikan rukun haji dulu, jadi setelah ke Muzdalifah kita kembali lagi ke Masjidil Haram untuk tawaf ifadah. Karena kalau rukun haji itu terkait syarat sah haji, dan tidak bisa diwakilkan," kata Ustaz Hamdan Rasyid, pembimbing haji khusus Maktour saat berbincang dengan detikcom.

Alhamdulilah... Rangkaian Puncak Haji SelesaiFoto: Melontar jamrah (Ardhi Suryadhi/detikcom)


Berdasarkan pengamatan detikcom, prosesi mabit (bermalam) di Mina dan melontar jamrah jadi periode yang paling banyak menguras tenaga.

Pasalnya selain padat, bus-bus pengantar tak bisa mendekat ke gerbang utama. Otomatis, para jemaah harus berjalan kaki untuk masuk ke area melontar jamrah dan lanjut ke tenda-tenda yang telah disediakan.

Jarak antara tempat bus berhenti hingga ke lokasi melontar jamrah sekitar 2 km, atau butuh 30-45 menit berjalan kaki. Adapun untuk tenda tergantung dari rombongan kloter. Menurut petugas haji yang sempat ditemui, jaraknya ada yang sampai radius 7 km dari lokasi bus berhenti.

Alhasil, kemampuan fisik jemaah bakal diuji di sini. Lantaran jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki hitungan kilometer. Belum lagi ketika siang hari panas terik bakal menyengat.


Meski demikian, suasana spesial seperti di Arafah juga terjadi di Mina. Yakni turunnya hujan lebat disertai angin kencang pada Senin (12/8/2019) sore.

Kondisi tersebut membuat sejumlah tenda bocor dan tampias, pasokan listrik di tenda-tenda terhenti, serta akses untuk melontar jamrah ditutup sementara. Namun sekitar pukul 17.00 waktu Arab Saudi, situasi mulai terkendali dan listrik menyala kembali.

Kekhawatiran para jemaah pada saat itu adalah, listrik masih mati ketika malam tiba. Bisa dibayangkan bagaimana tak kondusifnya ketika hal itu terjadi. Namun Alhamdulillah, kekhawatiran tersebut tak terjadi.

Alhamdulilah... Rangkaian Puncak Haji SelesaiFoto: Mina sempat hujan (Ardhi Suryadhi/detikcom)


Jemaah Indonesia
diberi dua pilihan untuk tinggal di Mina, memilih untuk nafar awal atau nafar tsani. Adapun Nafar awal artinya para jemaah bakal meninggalkan Mina pada tanggal 12 Zulhijah, dan dilakukan sebelum terbenam matahari. Sementara jika memilih nafar tsani maka jemaah akan meninggalkan Mina pada 13 Zulhijah.

Kini, Rabu 13 Zulhijah 1440 H atau 14 Agustus 2019, para jemaah sudah kembali ke hotel atau pemondokan mereka di Mekah. Selain beristirahat, ada pula yang sudah menjadwalkan untuk mengerjakan umrah tambahan.

Setelah itu tinggal melakukan tawaf wada' alias tawaf perpisahan kepada Masjidil Haram sebelum terbang meninggalkan kota Mekah untuk pulang ke Tanah Air atau singgah sejenak ke Madinah.



Jemaah Haji Ramai-ramai Botak, Apa Faedahnya?:

[Gambas:Video 20detik]


(ash/gbr)
FOKUS BERITA: Kabar Haji 2019
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com