Indonesia Peringkat 102 Dunia Soal Kebebasan Pers
Sabtu, 22 Okt 2005 08:44 WIB
Jakarta - Indonesia menempati peringkat 102 di dunia soal kebebasan pers dengan mengumpulkan poin sebesar 26,00. Sementara peringkat paling rendah soal kebebasan pers dipegang oleh Korea Utara, Eritrea dan Turkemenistan. Demikian hasil survei dan penelitian Worldwide Press Freedom yang dirilis Sabtu (22/10/2006).Peringkat Indonesia yang berada pada peringkat 102 dinilai lebih baik dari tahun lalu. Peringkat Indonesia lebih baik kendati sejumlah jurnalis di Aceh mengalami kekerasan. Pekerja media di Indonesia saat ini berada di iklim kebebasan pers yang baik dan media on line yang tumbuh subur. Korea Utara sekali lagi menempati peringkat 167 dunia soal kebebasan pers yang diikuti oleh Eritrea dan Turkmenistan pada peringakat 166 dan 165. Korea mengumpulkan poin sebesar 109,00 disusul Eritrea 99,75 dan Turkmenistan sebesar 93,50.Para jurnalis di Korea Utara sama sekali tidak bebas dan hanya menjadi propaganda pemerintah. Tak hanya itu kekerasan terhadap pers di negara ini sangat terasa. Intimidasi dan kekerasan fisik dengan memenjarakan pekerja pers sudah sering terjadi.Sementara kebebasan pers di Filipina juga turun hingga peringkat ke 139 karena pemerintahan negara itu telah melakukan sensor pemberitaan terutama oleh pejabatnya terhadap berita korupsi. Di Pulau Mindano kekerasan terhadap para jurnalis bahkan telah memakan korban jiwa.Peringkat atas kebebasan pers hingga kini masih dipegang oleh negara-negara Eropa Utara seperti Denmark yang menempati peringkat pertama, disusul dengan Finlandia, Irlandia, Islandia, Norwegia dan Belanda. Amerika Serikat yang dikenal dengan kebebasan persnya ternyata peringkatnya jatuh menjadi 44 dari peringkat 24 sebelumnya. Kejatuhan peringkat AS soal kebebasan pers ini karena seorang reporter dari New York Times Judith Miller yang dipenjarakan karena melindungi nara sumbernya.Dalam catatan Worldwide Press Freedom di Irak kekerasan terhadap jurnalis telah menimbulkan korban, Setidaknya sebanyak 24 jurnalis dan pekerja media telah terbunuh akibat konflik ini. Ini membuktikan konflik di Irak lebih menyeramkan ketimbang pada saat Perang Dunia Kedua.
(mar/)











































