detikNews
Rabu 14 Agustus 2019, 11:33 WIB

Mahfud Md Cerita Keluhan Kelompok Radikal yang Ogah Dukung Pemerintah

Farih Maulana Sidik - detikNews
Mahfud Md Cerita Keluhan Kelompok Radikal yang Ogah Dukung Pemerintah Mahfud Md (Foto: Agung Pambudhy-detikcom)
Jakarta - Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Mahfud Md bercerita tentang keluhan kelompok radikal yang ogah mendukung pemerintah. Salah satu masalah yang dikeluhkan kelompok tersebut, kata Mahfud, adalah kemiskinan rakyat.

Mahfud awalnya bicara tentang makna kemerdekaan, yang menurutnya pernah disebut Presiden ke-1 RI Sukarno alias Bung Karno, sebagai jembatan emas membangun kesejahteraan. Dia mengatakan ucapan Bung Karno itu benar karena tanpa kemerdekaan maka orang-orang Indonesia tak bisa menjadi menikmati apa yang sudah ada saat ini.



"Karena Indonesia sudah merdeka sudah punya jembatan emas sudah bisa orang bisa jadi jenderal, mungkin di antaranya besok jadi presiden, jadi menteri, jadi panglima, jadi kapolri. Kalau tidak merdeka tidak bisa. Kita punya presiden yang dipilih sendiri, gubernur dipilih sendiri, DPR dipilih sendiri, kalau tidak merdeka tidak bisa," kata Mahfud di Auditorium Jos Soedarso Seskoal, Bumi Cipulir, Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2019).

Hal itu disampaikan Mahfud saat menjadi pembicara di Pembekalan Program Kegiatan Bersama Kejuangan kepada Perwira Siswa Sesko TNI, Sespimti Polri, Sesko Angkatan dan Sespimmen Polri tahun 2019. Namun, kata Mahfud masih ada pihak yang disebutnya sebagai kelompok radikal yang mempertanyakan untuk apa Indonesia merdeka.

Mahfud Md Cerita Keluhan Kelompok Radikal yang Ogah Dukung PemerintahFoto: Farih Maulana/detikcom

"Ada yang mengeluh begini 'Pak untuk apa Indonesia kayak gini? Merdeka, punya pemerintah, tapi rakyat masih miskin, apa perlu pemerintah seperti ini kita dukung?' Ada yang mengeluh seperti ini terutama kelompok yang radikal itu," kata Mahfud

Dia mengatakan semua pihak memang tidak boleh menutup mata dengan adanya kekurangan yang terjadi meski Indonesia sudah merdeka. Namun, kata Mahfud, kemerdekaan tetap harus disyukuri karena dengan kemerdekaan, jumlah kemiskinan bisa terus dikurangi.

"Kita tidak menutup mata adanya kekurangan-kekurangan. Tapi coba bayangkan ketika tanya berapa jumlah orang miskin di Indonesia? Berdasarkan ukuran yang dipakai Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2018 itu 25,6 juta, berapa persen? 9.4 persen. Apakah karena itu kita mau tidak mensyukuri kemerdekaan? Kalau memandangnya secara optimis untung kita masih punya orang miskin sudah tinggal 9,4 persen. Karena kalau Indonesia dulu tidak merdeka yang miskin 99.9 persen. Sekarang karena merdeka orang miskinnya per 2018 itu tinggal 9.4, mungkin berikutnya tinggal 7, memang bertahap. Itulah cara mensyukuri nikmat kemerdekaan," ujarnya.

Mahfud juga menyebut ada keluhan lain yang disampaikan oleh kelompok radikal. Keluhan itu terkait masih banyaknya pelaku korupsi di Indonesia.

"'Pak apa gunanya kita tunduk pada pemerintah? Korupsi negara merajalela di kalangan pemerintahan?' Ya, tapi dulu seandainya kita tidak merdeka kita tidak bisa menangkap orang korupsi tiap bulan, tiap hari, tiap minggu karena kita merdeka. Dulu semua kekayaan kita dikorupsi. Ketika kita tidak merdeka kita tidak tahu kekayaan kita seberapa banyak dan digunakan untuk apa," ucap Mahfud.



Dia mengatakan kemerdekaan harus dipertahankan demi menuju tujuan nasional dan mewujudkan cita-cita bangsa. Mahfud kemudian bicara tentang radikalisme yang kini mengganggu di Indonesia.

"Radikalisme sekarang ini sedang mengganggu kita. Radikal itu kalau tidak sama dengan pandangan kita sekarang bisa jadi musuh. Sekarang masuk gerakan radikal atas nama politik identitas terutama keagamaan. Ini tugas saudara untuk menjaga itu, tidak akan tercapai Indonesia emas, tidak ada gunanya Indonesia emas yang dibangun oleh para pendiri kalau saudara toleran terhadap tindakan itu," tuturnya.



Tonton video Mahfud MD ke Milenial: Jangan Merasa Ekslusif karena Mayoritas:

[Gambas:Video 20detik]




(haf/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com