TNI Bantah Lakukan Agresi Militer ke Timor Leste

TNI Bantah Lakukan Agresi Militer ke Timor Leste

- detikNews
Jumat, 21 Okt 2005 20:11 WIB
Kupang - Tudingan pemerintah Timor Leste soal pasukan TNI yang melakukan agresi ke wilayah Timor Leste membuat berang militer Indonesia. "Itu bohong besar," kata Danrem 161 Wirasakti Kupang, Kolonel Inf, Noach Bolla.Sebelumnya Menlu Timor Leste Ramos Horta dan jaringan UN di negara itu mengatakan 200 Warga Negara Indonesia (WNI) dibantu pasukan TNI dan mantan milisi pro Indonesia melakukan agresi militer dan serangan bersenjata ke wilayah enclave Oecusi, salah satu distrik Timor Leste yang berada terpisah dan diapit oleh daratan Indonesia di bagian utara Timor barat, Nusa Tenggara Timur.Tudingan terhadap militer Indonesia itu dijadikan laporan utama media nasional Timor Leste dan dikutip berbagai media asing. Bahkan, beberapa koran Australia terbitan Kamis, menempatkannya sebagai headline pada halaman satu. "Pemberitaan tersebut bohong besar. Horta sengaja melakukan kampanye media untuk menarik simpati asing dengan harapan misi PBB yang akan berakhir Mei 2006 dapat diperpanjang. Timor Leste mempolitisir pemberitaan itu dengan sengaja mendeskriditkan militer Indonesia," kata Bolla diruang kerjanya, Jumat (21/10/2005).Bahkan Horta bersama seluruh duta besar negara asing serta para pejabat UN di Timor Leste melakukan pertemuan di Oecusi, Kamis (20/10) dan membahas pemberitaan agresi militer Indonesia secara serius. Dalam pertemuan itu, Horta secara berulang kali meyakinkan para duta besar dan pejabat UN bahwa militer Indonesia berada dibalik serangan itu.Bolla menambahkan, kronologis sebenarnya yakni pada Sabtu (15/10/2005) lalu, sejumlah warga Oecusi dibantu polisi nasional Timor Leste unit patroli perbatasan melakukan aktivitas di lahan sengketa di kawasan Nokok Naus, Banat dan Nitmanti yang berada tidak jauh dari pos pasukan pengaman perbatasan TNI Haumeni Anan, Kabupaten Timor Tengah Utara. Kawasan itu, selama ini dijadikan zona netral karena kedua negara belum menyepakati tapal batas yang pasti. Karena masuk dalam zona netral maka pengamanan di kawasan tersebut menjadi tanggung jawab bersama kedua negara. "Tiba-tiba warga Oecusi masuk ke lokasi sengketa itu dan mengolah lahan itu untuk dijadikan kebun. Warga Indonesia yang menetap di dekat lokasi sengketa marah dan mengusir mereka," kata Boll. Insiden itu berlangsung singkat setelah berhasil dilerai aparat keamanan kedua negara. Tetapi dalam pemberitaan di media massa, justru disebutkan bahwa dua polisi Timor Leste kena luka tembak dan militer Indonesia mengambil alih kawasan itu. Selain itu, TNI dituduh bekerjasama dengan warga sipil mengalihkan aliran sungai Nitime di tapal batas mengakibatkan 145 hektar sawah di Oecusi mengalami kekeringan.Secara terpisah, Komandan Satgas Pasukan Pengamanan RI, Kolonel Artileri Yul Aviandi mengatakan, terdapat beberapa segmen di perbatasan kedua negara yang masih dalam pengamanan bersama karena berstatus sengketa. Beberapa segmen tersebut yakni 1009 hektar sawah di segmen Noel Besi/Catrana di perbatasan Oecusi dan Kabupaten Kupang, segmen Dilumi/Memo seluas 37 hektar di perbatasan Kabupaten Belu serta Segmen Bijael Sunan-Oben seluas 141 hektar di Kabupaten Timor Tengah Utara, serta kawasan Nokok Naus, Banat dan Nitmanti. "Terhadap wilayah sengketa itu, kedua negara bersepakat untuk melakukan pengawasan bersama serta warga sipil dilarang beraktifitas di sana," kata Aviandi saat dihubungi melalui telepon selulernya. (mar/)


Berita Terkait