Depag: Ajaran Terorisme Bukan dari Pesantren
Jumat, 21 Okt 2005 16:46 WIB
Jakarta - Ajaran terorisme bukanlah berasal dari pesantren. Pengaruh di luar pesantrenlah yang membuat seorang santri menjadi teroris. Pesantren pada dasarnya tidak mengajarkan ajaran yang menyimpang dan mengarah pada terorisme.Kalaupun ada lulusan pesantren yang menjadi teroris, hal itu hanya faktor kebetulan saja, bahwa ia pernah belajar di sebuah pesantren.Hal itu ditegaskan Direktur Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren Depag Amin Haedari di Gedung Depag, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (21/10/2005)."Saya melihat bukan karena hasil didikan pesantren, tapi karena pengaruh pada individu dari ajaran yang berasal dari luar pesantren," kata Amin.Dia mencontohkan, beberapa teroris pernah belajar di tempat-tempat lain, misalnya di Malaysia. Mereka juga belajar dari buku-buku serta berguru dari seseorang di luar pesantren."Lulusan pesantren Gontor bisa saja menjadi tokoh NU atau tokoh Muhammadiyah, bahkan bisa juga meluluskan Abu Bakar Ba'asyir pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)," tegasnya.Amin juga membantah ada bantuan dari pemerintah AS berupa dana ribuan dolar AS untuk berbagai pesantren di Indonesia. "Hal itu tidak benar meski di media massa pernah diberitakan secara besar-besaran," tegasnya.'Balasan' Tak SetimpalAmin menegaskan, pemerintah seharusnya berterima kasih kepada pesantren karena telah membantu mencerdaskan kehidupan bangsa hingga ke pelosok Tanah Air. Bahkan pesantren sudah ada sejak zaman sebelum penjajahan. Pesantrenlah yang di masa kemerdekaan gigih melawan penjajah.Namun 'balasan' yang diterima pesantren belum setimpal. Bantuan pemerintah untuk pesantren masih sangat kecil. Bahkan tidak semua daerah memiliki alokasi APBD untuk pesantren. "Dari APBN untuk pesantren hanya Rp 82 miliar," katanya.Dia juga menjelaskan hubungan Depag dengan pesantren-pesantren di Indonesia. Menurutnya hubungan Depag dan pesantren bukanlah hubungan atasan dan bawahan yang bersifat mengawasi. Hubungan kedua instansi ini sifatnya bekerjasama, berkoordinasi dan pembinaan. Bahkan untuk kurikulum pesantren pun, Depag tidak memiliki kewenangan untuk membuatnya. Semuanya diserahkan kepada kiainya masing-masing. Misalnya soal fiqih, tafsir, hadis, tasawuf, atau pun penghafalan Alquran yang semuanya diajarkan kiainya.Di Indonesia, lanjut Amin, terdapat 14.361 pesantren. Sebagian besar pesantren ini berada di Jawa yakni 11.664 pesantren, 1.381 pesantren berlokasi di Sumatera, 661 pesantren tersebar di Sulawesi, 336 pesntren berlokasi di Bali dan Nusa Tenggara, 294 pesantren ada di Kalimantan, dan 25 pesantren ada di Papua.Mengenai lokasi, sebanyak 11.056 pesantren berada di desa, 1.566 pesantren berada di kota, dan 1.445 pesantren di perbatasan. Sedangkan pesantren yang termasuk pesantren modern di Indonesia ada sebanyak 878 pesantren, 8.905 pesantren tradisional, dan pesantren terpadu sebanyak 4.284.
(umi/)











































