detikNews
Minggu 11 Agustus 2019, 12:27 WIB

Berbuat Tak Senonoh dengan Air di Pura Bali, Turis Rusia Minta Maaf

Aditya Mardiastuti - detikNews
Berbuat Tak Senonoh dengan Air di Pura Bali, Turis Rusia Minta Maaf Pasangan turis asal Rusia yang diduga melecehkan pura di kawasan Monkey Forest, Ubud, Bali. (Foto: Screenshot Instagram)
Denpasar - Video pasangan bule asal Rusia diduga melecehkan pura di kawasan Monkey Forest, Ubud, Bali, viral di media sosial. Dua pasangan bule yang diduga berasal dari Rusia itu pun akhirnya meminta maaf.

Video yang ramai dibahas itu diunggah akun Instagram story @sabina_dolezalova_ifbb. Dalam video itu terlihat Sabina Dolezalova bercanda-canda bersama pasangannya Zdenek Slouka dan menggunakan tirta suci yang mengucur dari pelinggih untuk membersihkan bagian pantat.

Setelah ramai disoal, lewat Instagram story-nya pihak turis itu pun juga menyampaikan permohonan maaf. Kedua pasangan itu mengaku tidak tahu tentang keberadaan tirta suci itu.




"Kami sangat meminta maaf atas video kemarin. Kami tidak menghormati pura suci dan tirta di Ubud, kami minta maaf kepada kalian," kata Zdenek Slouka.

"Karena kami tidak tahu jika tentang air suci atau di pura suci, kami tidak berniat buruk. Kami sangat menyesal dan berharap kalian akan memaafkan kami. Kami sekarang mencari tahu apa yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki itu. Semoga harimu menyenangkan dan kami sungguh-sungguh minta maaf," sambung Sabina Dolezalova.

Permintaan maaf ini diunggah keduanya di akun Instagram story mereka masing-masing. Dihubungi terpisah, senator DPD dapil Bali I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa menyesalkan peristiwa tersebut. Arya sejak awal melayangkan protes keras begitu mengetahui adanya tindakan yang melecehkan pura.

"Ya saya sangat prihatin karena ini agak konsisten pelecehan-pelecehan. Ini pengawasan imigrasinya kurang ketat atau ketidaktahuan si bule. Tapi saya rasa kalau mereka mau travel kemana pun seperti di Thailand kan ketat sekali aturan nggak boleh ada yang melecehkan, saya rasa kok bule-bule itu cuma mau viral," kata Arya Wedakarna saat dihubungi via telepon, Minggu (11/8/2019).




Arya menyebut air yang mengucur dari pelinggih itu merupakan air suci yang digunakan untuk kepentingan upacara. Dengan menggunakannya untuk 'cebok' para turis itu dinilai melecehkan umat Hindu.

"Kalau visualisasi itu airnya mengucur dari pelinggih, itu sudah pelecehan, karena air-air itu digunakan untuk hal-hal yang bersikap suci. Jadi dipakai untuk upacara, ambil tirta istilahnya, bahkan orang Bali saja untuk beberapa tempat seperti itu tidak boleh digunakan untuk mandi, karena ada pura yang khusus diambil air sucinya ada yang digunakan untuk bersih, untuk badan," jelasnya.

Arya juga menyoroti peristiwa itu terjadi karena keberadaan guide-guide ilegal. Dia pun berharap ada evaluasi terkait penertiban orang asing yang liburan tapi menyambi menjadi guide ilegal di Bali.

"Kurang ketatnya pengawasan guide-guide liar, karena banyak di Bali bule yang datang pakai visa turis nyambi jadi guide. Hal pelecehan pura tirta ini tidak akan terjadi kalau didampingi guide lokal, yang posting itu salah satu grup Rusia atau daerah sana, jadi saya rasa itu yang perlu dievaluasi visa on arrival dan penertiban orang asing yang tidak menggunakan pemandu," tuturnya.




Dia pun berencana akan memanggil para turis itu. Selain itu, Arya juga bakal minta para turis itu untuk melakukan upacara permintaan maaf.

"Rencana saya mau panggil itu bule, itu bule kayaknya kerja di Bali, yang pasti dari tim DPD Bali sudah komunikasi ya, dan juga yang pasti posting-an itu sudah dihapus yang bersangkutan. Kita mengharapkan selain minta maaf yang dilakukan lewat video itu, dia juga kita sarankan upacara di pura yang diperkirakan di Monkey Forest, nanti kami tinggal panggil dan kita koordinasikan agar segera membuat upacara permintaan maaf, guru piduka namanya, biar dia menenangkan umat yang kecewa," ucap Arya.

"Kalau ada umat Hindu yang keberatan kita dukung saja kalau ada pelaporan ke imigrasi atau hukum karena ini kan sudah jadi ranah publik," cetusnya.
(ams/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com