Hasil analisis BMKG pada dasarian I Agustus 2019 menyatakan kekeringan ekstrem kategori HTH terpanjang selama 118 hari terpantau di Pos Hujan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat.
BMKG menyatakan kondisi suhu muka laut di sekitar perairan NTB menunjukkan kondisi lebih dingin dibanding saat normal. Analisis angin menunjukkan angin timuran mendominasi wilayah Indonesia. Pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini tidak aktif di wilayah Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi tersebut mengurangi peluang terjadinya hujan di wilayah NTB," kata prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Restu Patria Megantara, dalam keteranganya, Sabtu (10/8/2019).
Peluang terjadinya hujan pada dasarian II Agustus 2019 sangat rendah, dengan peluang terjadi hujan >20 mm/dasarian umumnya hanya sebesar 10-20% di seluruh wilayah NTB.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB menyatakan ada tiga kabupaten yang sudah mengeluarkan status darurat kekeringan.
"Baru tiga yang mengeluarkan SK Darurat Kekeringan, yakni Lombok Barat, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Bima. Untuk daerah yang lain sedang proses di bupati dan wali kota-nya. Kita provinsi sedang melakukan proses penetapan juga, proses pembuatan SK-nya sedang berjalan di Biro Hukum," jelas Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahsanul Khalik.
Data wilayah yang terdampak kekeringan hingga Sabtu (10/8) sebanyak 302 desa, yang tersebar di 69 kecamatan, dan terdapat 9 kabupaten yang sudah mengeluarkan SK Siaga Kekeringan.
"SK Siaga Kekeringan sudah keluar untuk sembilan kabupaten, kecuali Kota Mataram," ujarnya.
Kemarau Tiba, Jokowi Minta Jajarannya Antisipasi Dampak Kekeringan:
(aan/aan)











































