Dubes Agus Maftuh Ungkap Diplomasi Agar Mbah Moen Dimakamkan di Ma'la

Dubes Agus Maftuh Ungkap Diplomasi Agar Mbah Moen Dimakamkan di Ma'la

Haris Fadhil - detikNews
Sabtu, 10 Agu 2019 09:30 WIB
Kompleks pemakaman Mala (Foto: Ardhi Suryadhi-detikcom)
Kompleks pemakaman Ma'la (Foto: Ardhi Suryadhi-detikcom)
Jakarta - Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, mengungkap diplomasi yang dilakukan pihak KBRI Saudi agar jenazah KH Maimun Zubair (Mbah Moen) bisa dimakamkan di Ma'la. Dia mengatakan KBRI menggunakan semua lorong diplomatik untuk meminta izin kepada Kerajaan Saudi agar jenazah Mbah Moen bisa dimakamkan di Ma'la.

"Prioritas KBRI Riyadh pagi itu adalah menggunakan semua lorong diplomatik untuk meminta izin kepada Kerajaan Arab Saudi agar ulama besar Indonesia ini dimakamkan di kompleks pemakaman istri Nabi, Sayyidah Khadijah di Ma'la agar para jamaah haji dan umrah bisa dengan mudah menziarahi ulama sekaligus guru bangsa ini," ujar Agus, Jumat (9/8/2019).



Dia mengatakan, berdasarkan kebiasaan di Mekah jika ada jemaah haji yang wafat, maka akan dimakamkan di kompleks pemakaman Saraya yang berjarak 20 Km dari Masjidil Haram. Dia mengatakan tak sembarang orang bisa dimakamkan di Ma'la yang berjarak sekitar 1,1 km arah utara dari Masjidil Haram karena space pemakaman yang sudah penuh.

"Berdasarkan kebiasaan di Mekah jika jemaah haji wafat maka akan dikebumikan di komplek pemakaman Saraya yang jaraknya 20 km dari Masjidil Haram. Hal ini disebabkan space pamakaman Ma'la yang sudah full dan tidak sembarang orang bisa dimakamkan di situ," ujarnya.

Agus menyebut dirinya menyiapkan surat kepada Raja Salman bin Abdulaziz, Kemlu Saudi, Gubernur Mekah Pangeran Khalid al-Faisal dan Amin al-Ashimah al-Muqaddasah (Otoritas Tanah Suci Mekah) Muhammad al-Quwaihish. Surat itu berisi untuk meminta izin pemakaman Mbah Moen di komplek Ma'la.

Dia mengaku saat itu jika KBRI gagal dalam komunikasi dengan Saudi maka bisa saja ada cap 'kemandulan diplomasi'. Sebagai santri, kata Agus, hal itu bakal jadi penyesalan panjang dirinya.

"Yang ada dalam pikiran kami dan jadi prioritas utama pagi sampai menjelang siang adalah Ma'la harus jadi peristirahatan terakhir Mbah Moen. Jika KBRI gagal dalam komunikasi dengan Saudi, maka ini adalah kegagalan luar biasa dan KBRI akan dicap sebagai 'kemandulan diplomasi' dan secara pribadi, sebagai santri hal tersebut akan menjadi penyesalan kami berkepanjangan," jelasnya.

Agus menyatakan prosesi pemakaman Mbah Moen ini diawali dengan nota diplomatik. Dia mengatakan proses pemakaman di Saudi memerlukan dokumen yang lengkap yang harus diselesaikan perwakilan RI.



"Sejak awal kita memakai lorong diplomatik dan selanjutnya pengaturan pemakamannya diatur oleh perwakilan RI di Saudi dalam hal ini KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah dengan tetap berpegangan dengan rambu-rambu diplomatik dalam berkomunikasi dengan Arab Saudi," ujarnya.

Dia juga menceritakan soal pengaturan prosesi pemakaman mulai dari pemberangkatan jenazah hingga pemakaman di Ma'la. Semua proses, kata Agus, sudah diatur dengan sangat rapi.

"Pengaturan ini mulai pemberangkatan janazah Mbah Moen dari Daker yang dilepas oleh Ketua MPR, Menteri Agama dan Dubes RI Riyadh sampai dengan prosesi pemakaman di Ma'la. Pengaturan pemakaman di Ma'la, KBRI menugaskan Atase Pertahanan Brigjen Drajad Brima Yoga, Atase Polisi Kombes Fahrurrazi, Atase Dikbud Achmad ubaedillah, Diplomat senior Raden Ahmad Arief serta para diplomat KJRI Jeddah. Mereka secara intensif berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk kelancaran prosesi pemakaman," tuturnya.

"Semua sudah dirancang sesuai kaidah-kaidah serta kepatutan diplomatik yang dalam hal ini KBRI dan KJRI yang punya wewenang yang mengatur itu semua sebagai perwakilan RI di Arab Saudi," sambung Agus.

Mbah Moen wafat pada Selasa (6/8) di Mekah. Ulama karismatik kelahiran 28 Oktober 1928 ini wafat pada usia 90 tahun.



Wahid Foundation Gelar Doa Bersama untuk Mbah Moen:

[Gambas:Video 20detik]

(haf/haf)