detikNews
Kamis 08 Agustus 2019, 22:30 WIB

Catatan Haji Alfito Deannova

Belajar Ilmu Ikhlas dari Korban Penembakan Christchurch

Alfito Deannova - detikNews
Belajar Ilmu Ikhlas dari Korban Penembakan Christchurch Masjid Al Noor, lokasi penembakan di Christchurch. (Foto: REUTERS/Edgar)
Mekah - Hari ini tanggal 7 Zulhijah, H-3 puncak ibadah haji di Arafah. Masjidil Haram padat oleh jemaah dari berbagai penjuru dunia, yang hampir semuanya telah tiba. Kondisi ini menyebabkan transportasi menuju Al-Haram dari lokasi penginapan para tamu undangan Raja tempat tinggal saya juga sulit. Akhirnya saya memutuskan menghabiskan waktu di hotel dari pagi sampai siang tadi. Setelah menunaikan salat Zuhur di masjid hotel, naluri saya mengarahkan langkah untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Di ruang makan, semua meja sarat jemaah tamu undangan, yang diperkirakan berjumlah dua ribuan orang, yang tengah santap siang. Di salah satu sudut dinning room, saya menemukan seorang pria duduk sendiri dengan tongkat bantu jalan di sebelahnya. "Is this seat taken?" tanya saya setengah berharap. Ia menggeleng dengan gestur tangan menyilakan saya duduk di hadapannya. Tak apalah makan dengan orang asing ketimbang makan sambil berdiri, saya pikir. Ketika saya duduk, ia lantas mengamanahkan kepada saya untuk menjaga tempatnya karena bapak ini juga ternyata belum bersantap.

Dua kawan saya kemudian muncul, Ustaz Farid dan Ustaz Harfi, menemani saya makan. Lalu orang tadi datang dengan santapan pilihannya. Supaya tidak canggung, saya mencoba membuka pembicaraan. Saya tanya nama dan asalnya. Namanya Taj Muhammad. Ia adalah salah satu korban selamat kasus penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru. Aksi teror berlatar supremasi kulit putih itu terjadi pada 15 Maret lalu saat khotbah Jumat dikumandangkan di Masjid Al-Noor dan Lindwood Islamic Centre, yang menyebabkan 50 orang tewas dan 20 lainnya terluka. Kejadian itu tak hanya membekas di benak Taj, tapi juga membuatnya belum dapat berjalan normal hingga saat ini karena cedera tembak di panggul dan pahanya. Hari nahas, katanya, terjadi sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-47.


Taj MuhammadTaj Muhammad (Foto: Alfito Deannova/detikcom)

Taj adalah imigran asal Kabul, Afganistan. Perang dan konflik berkepanjangan membuatnya memutuskan mengungsi ke New Delhi, India, pada 1998. Bersama ibunya, ia memutuskan mencari pengharapan baru di sana. Belasan tahun ia menetap di India dengan status pengungsi. Untuk menyambung hidup, ia membuka usaha toko roti. Taj kemudian menikahi Nashri, gadis asal Teheran. Dari pernikahan itu, mereka memiliki lima anak. Usia 20 tahun yang paling besar, sedangkan si bungsu sekarang berusia 12 tahun. Pada 2007, pemerintah Selandia Baru membuka kesempatan bagi Taj bermigrasi ke negara itu dan mendapatkan kewarganegaraan penuh. Tanpa berpikir dua kali, Taj mengambil kesempatan itu. "Hidup di India sangat sulit," katanya. Alhasil, Taj, Nashri, dan keluarganya menetap di Christchurch. Taj pernah mencoba bermacam pekerjaan, mulai tukang daging sampai sopir taksi.

Saat Brenton Tarrant, pelaku penembakan, memasuki ruang ibadah Lindwood Islamic Centre, Taj tengah khusyuk mendengarkan khotbah kedua di saf paling depan. Lalu rentetan suara tembakan senjata otomatis membuyarkan semuanya. Taj menyebut bersyukur berada di bagian depan, karena penyerang beraksi dari belakang. Meski demikian, senjata teroris itu tetap melukainya.


Ahmad, sahabat Taj MuhammadAhmad, Sahabat Taj Muhammad (Foto: Alfito Deannova/detikcom)

Saat kami asyik berbincang, seorang kawan Taj yang juga korban penyerangan, Ahmad, ikut bergabung. Tak berbeda dengan Taj, Ahmad terpaksa menggunakan alat topang tubuh sehari-hari setelah punggungnya dihujani peluru. "Saya lebih parah, saya ada di saf belakang!" katanya sembari menunjukkan foto pascakejadian yang sungguh-sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Ahmad juga sama seperti Taj. Ia lahir dan tumbuh remaja di Afganistan. Pada 1991, saat usianya 13 tahun, perang memaksa keluarganya hijrah ke India. Menetap selama 15 tahun sebagai pengungsi di India, keluarganya kemudian bermigrasi ke Selandia Baru. Di sana sehari-hari Ahmad bekerja sebagai penjaga toko kelontong dan menikahi seorang gadis asal Afganistan buah perjodohan yang diatur kakak perempuannya di kampung. Kini buah hati mereka semata wayang berusia 5 tahun. Dengan kondisinya kini, Ahmad tak lagi dapat bekerja. Ia hanya mengharapkan santunan dari pemerintah sebesar 500 dolar per minggunya. "Lalu apa rencana ke depan untuk hidup Anda?" tanya saya. "Rencana apa?" Ahmad berbalik. "Sudahlah, hidup ini Allah yang mengatur. Dunia ini hanya transit sementara. Saya lebih banyak berpikir tentang hari kemudian. Apa yang menimpa saya adalah suratan-Nya. Kita manusia tinggal menjalaninya dengan ikhlas."


Taj dan Ahmad adalah bagian dari 200 korban dan keluarga korban Christchurch yang menjadi tamu undangan Raja Salman dari Saudi Arabia untuk menjalankan ibadah haji tahun ini.
(jbr/hbb)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com