detikNews
Kamis 08 Agustus 2019, 16:53 WIB

Laporan Dari Mekah

Dubes Agus Maftuh Singgung 'Penyerobot Doa' di Silaturahmi NU Sedunia

Ardhi Suryadhi - detikNews
Dubes Agus Maftuh Singgung Penyerobot Doa di Silaturahmi NU Sedunia Silaturahmi NU XVIII Sedunia di Mekah (Ardhi Suryadhi/detikcom)
FOKUS BERITA: Mbah Moen Wafat
Mekah - Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel turut memberi sambutan dalam Silaturahim Nahdlatul Ulama (NU) XVIII Sedunia di Mekah. Agus sempat menyinggung aksi menyerobot doa.

Pada awal sambutan, dubes yang terkenal dengan gaya ceplas ceplosnya tersebut bercerita tentang bagaimana kedekatan keluarganya dengan keluarga KH Maimun Zubair (Mbah Moen) sejak puluhan tahun lalu.

"Bangunan persaudaraan ini dibangun sejak tahun 1960, lewat emak saya yang jadi tukang masak dan bapak saya nyantri di abahnya Mbah Moen, KH Zubair Dahlan," ujar Agus dalam sambutannya di Silaturahim NU XVIII Sedunia yang digelar di Al Tayseer Tower Hotel, Mekah, Kamis (8/8/2019).


Termasuk ketika Agus dan istrinya menikah pada 1990-an, Mbah Moen pula yang mengijabkan.

Bahkan, 26 jam sebelum Mbah Moen wafat, Agus ingat betul masih bersilaturahmi ke beliau bersama istri dan anak-anaknya. Ia datang pukul 12 malam waktu Mekah dan harus berjalan kaki hingga 5 km lantaran jalan ditutup. Dalam pertemuan malam itu, Mbah Moen sempat bercerita tentang ayah Dubes Agus yang sangat fanatik dengan KH Zubair Dahlan.

"Namun, ketika tahun 70-an, Mbah Moen bikin pesantren, bapak saya yang tukang jam alhamdulillah jadi salah satu santri pertama beliau," kata Agus.

"Hubungan kesejarahan historisitas inilah yang mengikatkan kami sehingga kami agak tersinggung di dalam sebuah pemakaman ada orang yang tiba-tiba menyerobot sebuah doa. Mohon dimaklumi agak sensitif, karena ini terkait dengan prasasti kesejarahan masa lalu," pungkasnya berapi-api di hadapan peserta.

Memang tak disebutkan siapa penyerobot doa yang dimaksud Dubes Agus. Tetapi sebelumnya, ia sempat berkomentar keras terhadap sikap Habib Rizieq Syihab dalam pemakaman Mbah Moen yang digelar di Al Ma'la, Mekah, pada Selasa (6/8).

Agus mengatakan proses pemakaman Mbah Moen memang dipadati pelayat. Salah seorang yang hadir dalam kerumunan pelayat itu, kata Agus Maftuh, adalah Habib Rizieq. Namun Imam Besar FPI itu, disebut Agus Maftuh, berada di lubang makam yang salah.

"Saya lihat MRS (Muhammad Rizieq Syihab) memang hadir sejak awal dan berkerumun di lubang yang salah. Saya tahu nomor lubang karena yang mengurus di Provinsi Mekah adalah tokoh NU Saudi, yaitu KH Dr Fahmi. Dr Fahmi lah yang menemui pejabat Provinsi Mekah dan dipastikan Mbah Moen dimakamkan di posisi yang sangat strategis di kompleks Ma'la," tutur Agus Maftuh kepada wartawan, Rabu (7/8).


Agus mengaku menggotong langsung jenazah Mbah Moen bersama dua santri Mbah Moen bernama Muhlisin dan KH Syarif Rahmat. Saat jenazah hendak diturunkan ke liang lahat, banyak jemaah yang berebut untuk menyentuh keranda.

Dia mengatakan pembacaan talkin tidak etis dan terlalu berani karena dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), ulama besar yang wafat jarang ditalkin. Dan kalaupun ditalkin maka dilakukan oleh kiai yang selevel.

Sementara soal pembacaan doa oleh Habib Rizieq, Agus Maftuh menilai hal itu sebagai penyerobotan karena tidak ada koordinasi. Selain itu, dia menilai yang dilakukan Habib Rizieq tidak sesuai dengan adat pesantren.

"Selanjutnya, tanpa aba-aba, Habib MRS membacakan doa dengan suara keras di tengah kerumunan jemaah. Setelah itu baru saya bisa masuk ke kerumunan bersama Bapak Menteri Agama dan kemudian kita berdoa bersama-sama untuk Mbah Moen dan Pak Menag berpesan kepada kita untuk selalu meneladani Mbah Moen," ujarnya.

Agus menyesalkan sikap Habib Rizieq yang tanpa koordinasi membacakan doa di pemakaman Mbah Moen. Menurut Agus, tindakan tersebut sangat tidak etis.

"Ini yang saya sebut sebagai 'ketidaketisan'. Meski saya muda, saya ini jadi bapak seluruh WNI yang ada di Arab Saudi dan saya sebagai sahibulbait (yang punya hajat). Saya heran ada orang tanpa koordinasi dengan sahibulbait memposisikan diri sebagai pembaca doa," ujar dia.

"Dalam tradisi NU, ulama kalau disuruh berdoa masih memakai budaya ewuh-pekewuh, yang senior biasanya yang didorong untuk berdoa dan kiai-kiai yang junior mendampingi. Lha ini kok ada yang main serobot doa tanpa izin sahibulbait yang punya tanggung jawab mulai proses perizinan sampai pemakaman seorang yang sangat dihormati oleh umat Islam di Indonesia khususnya Nahdlatul Ulama. Ini tak etis dan tidak dikenal dalam tradisi pesantren," bebernya.
(idh/idh)
FOKUS BERITA: Mbah Moen Wafat
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com