detikNews
Kamis 08 Agustus 2019, 15:42 WIB

Laporan Dari Mekah

Katering Disetop, Jemaah Sulap Kamar Jadi 'Dapur' Dadakan

Ardhi Suryadhi - detikNews
Katering Disetop, Jemaah Sulap Kamar Jadi Dapur Dadakan Jemaah Sulap Kamar Jadi 'Dapur' Dadakan. (Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom)
FOKUS BERITA: Kabar Haji 2019
Mekah - Menjelang wukuf di Arafah, ketersediaan bus solawat dan pasokan katering untuk jemaah haji disetop sementara. Alhasil, para jemaah pun harus putar otak untuk memenuhi kebutuhannya.

Terlebih untuk urusan rasa dan perut, terkadang tak lantas bisa dipuaskan dengan berderetnya tempat makan di Mekah yang berjualan.

Alhasil, pilihan untuk memasak sendiri pun mereka jalani. Meski sederhana, yang penting pas dengan lidah.



Seorang jemaah yang ditemui detikcom di pemondokan Retaj Hotel mengatakan, ia dan para jemaah lain patungan untuk membeli beberapa kebutuhan dapur. Mulai dari rice cooker, bahan makanan, hingga teh.

"Masaknya nggak boleh pakai kompor. Jadi kita rice cooker aja, tinggal colok di kamar buat masak. Nanti masakannya dibagi-bagi ke jemaah lain," ujar jemaah asal Cengkareng, Jakarta Barat ini.

"Tapi kalau pagi biasanya ada yang beli nasi uduk atau lontong di depan hotel," lanjutnya.

Subhan Cholid, Kepala Daker MekaSubhan Cholid, Kepala Daker Mekah. (Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom)


Subhan Cholid, Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekah, menyatakan bahwa layanan katering dan bus solawat disetop mulai dari tanggal 6, 7, 8, 14 dan 15 Zulhijah.

Kebijakan ini diambil lantaran bus-bus layanan haji yang total berjumlah 60 ribu unit itu harus ditempelkan stiker untuk kebutuhan aktivitas Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

"Karena untuk penempelan stiker di bus itu kan butuh waktu, nggak bisa mepet. Jadi kita hentikan. Selain itu, di periode tersebut juga bisa dimanfaatkan para jemaah untuk menyiapkan fisik guna menyambut puncak haji yang dimulai di Arafah," kata Subhan saat berbincang dengan detikcom di kantor Daker Mekah.



Adapun alasan dihentikannya katering untuk sementara karena padatnya lalu lintas jemaah, sehingga membuat distribusi katering sulit untuk mendapat jaminan.

"Jadi mereka (penyedia katering) khawatir basi di jalan, banyak yang tak sanggup," lanjutnya.

Pun demikian, Subhan menilai para jemaah haji akan survive meski katering disetop. Sebab secara historis, jemaah Indonesia sudah selalu bersiap diri dengan segala kondisi ketika membulatkan tekad berhaji.

"Termasuk untuk katering baru dimulai tahun 2015. Jadi seharusnya tak masalah untuk para jemaah, dan mereka juga telah dibekali uang saku," pungkasnya.
(ash/idn)
FOKUS BERITA: Kabar Haji 2019
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com