detikNews
Kamis 08 Agustus 2019, 11:26 WIB

Kisah Cosmas Batubara Dimarahi Bung Karno dan Nasi Goreng Buatan Mega

Sudrajat - detikNews
Kisah Cosmas Batubara Dimarahi Bung Karno dan Nasi Goreng Buatan Mega Foto: Cosmas Batubara (ist)
Jakarta -

Pada 18 Januari 1966, Presiden Sukarno (Bung Karno) menerima 10 pentolan aktivis mahasiswa di Istana Merdeka. Mereka antara lain Cosmas Batubara, David Napitupulu, Mohammad Zamroni, Tommy Wangke, Liem Bian Koen (Sofjan Wanandi), Aberson Marle Sihaloho, Djoni Sunarja, Firdaus Wajdi, Suwarto, dan Abdul Gafur. Sementara Presiden didampingi Menteri Koordinator Hubungan Rakyat Roslan Abdoelgani, Menteri Perkebunan Frans Seda, dan Menteri Perguran Tinggi Syarief Thayeb.

Satu persatu mahasiswa yang hadir disemprotnya. Ketika Cosmas yang menjadi ketua rombongan menyampaikan petisi Tritura (Tri Tuntutan Rakyat), Bung Karno murka bukan kepalang.

"Saudara Cosmas, sebagai orang Katolik, kok Anda berani melawan saya, dan tidak menghargai saya. Padahal Bapak Paus saja menghargai saya, memberikan bintang penghargaan," katanya seraya menoleh ke arah Menteri Fran Seda yang juga Katolik.



Adegan itu terekam dalam otobiografi, "Abdul Gafur Zamrud Halmahera" yang diluncurkan 10 Januari 2019. Mengenakan kemeja biru, Cosmas hadir dalam acara yang digelar di Balai Kartini itu. Dia duduk satu meja dengan koleganya sesame menteri di kabinet era Presiden Soeharto, seperti Prof Emil Salim, Prof JB Sumarlin, Akbar Tanjung, dan Harmoko.

Di usia 79 tahun, dia masih tampak bugar. Sebagai petinggi salah satu perusahaan pengembang terbesar di tanah air penampilannya tergolong amat sederhana, juga humble. Dia mencari toilet sendiri, dan ikut antre makanan seperti undangan lainnya.

Di buku lain, Cosmas mengungkapkan kisah serupa. Cuma dirinya sudah mendapat informasi dari ajudan, Mayor KKO Widjanarko bahwa dalam pertemuan itu dipastikan Bung Karno akan marah besar. Kalau sudah marah, Bung Karno biasanya cukup lama, sekitar setengah jam. Tenyata benar.

Para mahasiswa dituding sudah ditunggangi oleh Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Presiden sepertinya tidak sadar bahwa para mahasiswa yang datang masing-masing sangat independen.

"Kalau saya diserang secara pribadi bukan berarti yang lain akan diam," tulis Cosmas dalam 'Napak Tilas Gerakan Mahasiswa 1966' yang terhimpun di buku Simtom Politik 1965

karya OC Kaligis - Rum Aly yang diterbitkan Kata Hasta, 2007.

Setelah Presiden Sukarno marah-marah, para peserta pertemuan satu persatu melakukan reaksi dan akhirnya Presiden Sukarno kewalahan. Lalu sambil menoleh kepada Roeslan Abdoelgani, Bung Karno berkata, "Roeslan, mereka ini belum mengerti revolusi. Bawa mereka dan ajar tentang revolusi".

Akhirnya pertemuan selesai tapi belum ada putusan Presiden tentang Tritura. Seperti hari-hari sebelumnya para mahasiswa mulai lagi demonstrasi. Dalam puncak kejengkelannya terhadap demonstrasi KAMI, pada 25 Februari 1966 Presiden Soekarno mengeluarkan putusan membubarkan KAMI yang diikuti pengumuman tidak boleh berkumpul lebih dari lima orang.

Tapi menurut Gafur, pada Juli 1966 Bung Karno kembali mengundang para mahasiswa. Dalam pertemuan kedua si Bung tampil lebih 'jinak' dan kebapakan. Dialog berlangsung lebih hidup, meskipun apa yang dituntut para mahasiswa tetap tak direspons sesuai harapan. Bung Karno tidak memberikan jawaban soal tuntutan agar PKI dibubarkan. Dia hanya menyuruh mahasiswa menunggu keputusan politik yang akan diambilnya.

Sebelum bubar, Bung Karno sepertinya paham bahwa tetamunya yang hadir kelaparan. Dia menjamu para mahasiswa dengan nasi goreng. Konon itu buatan Megawati.

Pada Kamis dini hari tadi, 8 Agustus 2019 salah satu aktivis 1966 yang pernah dimarahi Bung Karno, Cosmas Batubara mengembuskan napas terakhir di RSCM pada pukul 03.27 WIB. Pada 27 Juli lalu, suami dari RA Cypriana Hadiwijono ini sampan dikabarkan meninggal dunia. Rest In Peace, Pak Cosmas....




(jat/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com