Bupati Aceh Tenggara: 12 Orang Tewas, 1 Orang Hilang

Pascabanjir Bandang

Bupati Aceh Tenggara: 12 Orang Tewas, 1 Orang Hilang

- detikNews
Kamis, 20 Okt 2005 22:19 WIB
Medan - Proses evakuasi korban dan pembersihan di lokasi banjir bandang dan longsor di Aceh Tenggara masih terus berlangsung. Hingga Kamis (20/10/2005) telah ditemukan 12 korban yang meninggal dunia dan satu orang dinyatakan hilang.Bupati Aceh Tenggara Armen Desky menyatakan, data sementara yang diperoleh, sebanyak 12 korban tewas dan satu hilang. Pernyataan ini sebelum ditemukannya mayat Arnita, seorang wanita hamil berusia 30-an di Desa Simpang Semadam. Begitupun sejumlah warga menyatakan, masih banyak kerabat dan keluarga yang masih belum ditemukan.Selain itu, Bupati Armen Desky mengungkapkan, rumah yang rusak berat sebanyak 526 unit, sedangkan 400 rumah lainnya rusak ringan. Selain itu, dua unit bangunan sekolah juga mengalami kerusakan ringan. Total kerugian masih dalam penghitungan."Kami berharap pemerintah pusat dapat segera mengirimkan bantuan, terutama makanan dan tenda untuk para pengungsi," kata Armen Desky di Kutacane, ibukota Aceh Tenggara.Sejauh ini alat-alat berat masih terus bekerja. Pemindahan puing-puing bangunan, serta gelondongan dan batu-batu dari sekitar rumah penduduk, masih terus dilakukan. Jalan raya yang menghubungkan Medan (Sumut)-Kutacane sudah bisa dilalui sejak pukul 11 siang.Selain Arman, Wakil Ketua Yayasan Leuser Lestari (YLI) Mike Griffits mengatakan, pemantauan udara untuk memastikan penyebab kasus banjir bandang, hingga kini terus dilakukan. Namun, hingga Kamis siang, belum ada kepastian. Sebab, pandangan terhalang kabut tebal."Tadi pesawat sudah beberapa kali berkeliling, namun awan menghalangi pandangan. Kita akan mencoba lagi nanti," kata Mike Griffits di Medan.Menurut Griffits, kawasan yang mengalami banjir bandang itu merupakan bagian dari ekosistem atau pendukung Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Pihaknya tidak menampik adanya kemungkinan aktifitas illegal logging di kawasan itu, yang dapat diduga kuat sebagai penyebab terjadinya banjir bandang."Hampir 60 persen kawasan TNGL merupakan bukit pandan, yang mudah longsor. Jadi bisa saja akan terjadi kasus banjir bandang lainnya di kawasan lain. Makanya semua pihak harus berhati-hati," kata Griffits. (ism/)


Berita Terkait